Trahing Kusumah, Rembesing Madu, Wijining Tapa, Tedhaking Andanawarih

28 09 2010

Saya masih selalu teringat dengan istilah kata tersebut di atas ketika masih di bangku kuliah mata pelajaran Sejarah Tradisional / Sejarah Lokal di bawah bimbingan Ibu Dra. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S sekitar tahun 1991 (sekarang beliau sudah bergelar Prof. Dr.). Pada saat pembelajaran di ruang kuliah beliau memberikan pertanyaan tentang sifat & ciri seorang pemimpin yang dapat diangkat menjadi seorang raja dalam suatu pemerintahan tradisional (kerajaan). Menanggapi pertanyaan itu reaksi dari teman-teman waktu itu berbagai macam. Kemampuan pengetahuan yang mereka miliki barangkali dicoba untuk ditumpahruahkan demi menjawab pertanyaan yang dilontarkan tadi. Di lain pihak bahkan ada yang malah justru merasa ketakutan ketika disuruh menanggapi pertanyaan tersebut. Pokoknya berbagai reaksi muncul, mulai dari yang sok berteori, berspekulasi, berlagak nyaho betul, berdalih ini-itu, yang ngawur, ngayayay, sampai yang ketakutan segala juga ada. Baca entri selengkapnya »





Saham Orang Kuningan di Ibukota Jakarta

22 06 2010

Menilik sejarahnya ibukota Jakarta ternyata nenek moyang orang Kuningan Jawa Barat pernah ikut andil dalam membangun pemukiman masyarakat di sana. Hal itu berawal ketika dulu, tepatnya tahun 1522, terjadi peristiwa penyerbuan pasukan Fatahillah dari kerajaan Demak untuk mengusir tentara Portugis di Sunda Kelapa. Ikut bergabung di dalam pasukan tentara Fatahillah diantaranya sekelompok pasukan balabantuan yang direkrut dari Kerajaan Cirebon dan Kuningan (Jawa Barat). Kelompok pasukan dari Kuningan ini dipimpin oleh Sang Adipati Kuningan sendiri (Suranggajaya) dan panglima perangnya (senapati) bernama Ewangga. Dalam peristiwa tersebut akhirnya pasukan gabungan pimpinan Fatahillah tadi berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis. Peristiwa gemilang ini diabadikan dengan perubahan nama Sunda Kelapa dengan sebutan baru yaitu JAYAKARTA, Jaya = kemenangan, karta = abadi. Kelak nama Jayakarta ini akhirnya dikenal dengan nama JAKARTA sampai sekarang ini. Baca entri selengkapnya »





Hanya “Jl. Adipati” …..???

9 05 2010

Orang Kuningan barangkali sudah tahu, ada jalan raya yang tergolong baru dibuat di seputaran kota Kab. Kuningan yakni jalan lingkar utara yang menghubungkan Jl. Pramuka (Sidapurna) ke arah utara menuju Cirendang dan juga ke perempatan Cijoho. Jalan tersebut ternyata selanjutnya diberi nama “Jl. Adipati” titik, tanpa ada nama embel-embel lagi di belakangnya. Yang membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini, mengomentari nama jalan tersebut, adalah ketika saya sedang melintasi jalan tersebut muncul berkecamuk dalam pikiran tentang pertanyaan yang membuat saya heran yaitu “atas dasar apa pemberian nama jalan itu, mengapa hanya jalan “Adipati” ? Ya ….., cuma “Adipati”. ……Ada apa dengan “Adipati”. …….Siapakah yang dimaksud “Adipati” dalam hal ini ? ……………. Dan apakah boleh saya mengkritisi….. ??? Baca entri selengkapnya »





Aneh…!, Nama “Suranggajaya” di Kuningan Mengapa Tidak Populer ???

14 04 2010

Sekali lagi, saya masih menyayangkan dan turut prihatin atas kekurangtahuan masyarakat warga Kab. Kuningan yang masih “buta” akan sejarah daerahnya. Masalahnya memang selama ini pendidikan sejarah lokal Kuningan tidak dipopulerkan di bangku-bangku sekolah. Tidak hanya sekarang namun jauh-jauh sebelumnya juga entah berapa puluh tahun atau ratus tahun ke belakang kiranya Sejarah Kuningan tidak biasa diajarkan sebagai pelajaran mulok dalam pelajaran IPS.  Dan menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya pihak-pihak terkait, untuk mempopulerkan sejarah Kuningan dimaksud. Baca entri selengkapnya »





Ada Apa Dengan Nama “Kuningan” ?

7 12 2009

Ada satu pertanyaan yang selalu menggelayut dalam pikiran, dan dengan suatu kerangka pemikiran yang sedemikian rupa (relatif ilmiah?) saya berusaha mencoba memberikan suatu jawaban atas pertanyaan tadi yang kiranya dapat diterima oleh nalar keilmuan yaitu berkenaan dengan penggunaan nama sebuah tempat yaitu KUNINGAN, sebagai nama satu daerah yang kini menjadi salah satu kabupaten di Jawa Barat. Sebenarnya sejak kapan sih nama Kuningan ini dipakai bila menilik sejarahnya?,  seberapa lama atau tua?, pernah menjadi nama sebutan atau julukan apa saja Kuningan itu?, bagaimana bila dibandingkan dengan usia ketuaan dari nama daerah-daerah lainnya yang kini eksis di Jawa Barat sebagai nama kabupaten-kabupaten, sudah tuakah atau bahkan paling tuakah Kuningan itu? Kita akan coba membedahnya dalam pembicaraan kali ini. Baca entri selengkapnya »





“…Tembey Sang Resiguru Ngayuga Taraju Jawadwipa. …”

22 11 2009

Kalau kita mengungkap kembali eksistensi Kerajaan Saunggalah Kuningan yang dipimpin oleh Resiguru Demunawan, ada peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi berkaitan dengan peranan tokoh tua dari Saunggalah ini yang berhasil membawa Kerajaan Saunggalah sebagai satu kerajaan “penting & menentukan”  di tengah-tengah pergaulan dengan kerajaan lainnya, khususnya di Jawa Barat, pada kurun waktu abad ke-8 Masehi. Peranan Resiguru Demunawan itu antara lain berhasil menjadikan Kerajaan Saunggalah sebagai kerajaan “besar” menurut ukuran zaman waktu itu, mampu mensejajarkan diri dengan kebesaran Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda yang telah berdiri terlebih dulu. Selanjutnya Resiguru Demunawan juga merupakan tokoh yang dipercaya untuk menengahi pertikaian ketika terjadi perang saudara antara Manarah (Ciung Wanara) dengan Rahyang Banga di Galuh pada tahun 739 Masehi. Baca entri selengkapnya »





Silsilah Demunawan (Sang Seuweukarma), Raja Kerajaan Saunggalah Kuningan

12 11 2009

Ini adalah silsilah raja-raja dari keturunan Tarumanagara, Galuh, Sunda, dan Saunggalah; terutama berkaitan dengan tokoh Resiguru Demunawan atau disebut pula Sang Seuweukarma, atau Ranghiyangtang Kuku atau Sang Kuku, raja dari Kerajaan Saunggalah Kuningan (723 – 774 M). Terlihat bahwa terdapat pertalian hubungan darah antara kerajaan yang ada di Jawa Barat ini, yaitu dari adanya hubungan pernikahan antar anggota keluarga Kerajaan Tarumanagara – Galuh – Sunda – Saunggalah.

Silsilah Galuh dst