“Suranggajaya” Mengapa Tidak Diabadikan ?

5 11 2009

Bila kita berjalan-jalan di seputar wilayah Kabupaten Kuningan, apakah berjalan-jalan di dalam kota Kuningan maupun di luar kota Kuningan (tiap kecamatan yang ada di Kuningan), sejauh yang penulis ketahui belum pernah rasanya menemukan nama suatu jalan di kota kab/kec/desa, gedung besar/kecil, rumah makan, hotel/penginapan, dan lain sebagainya menggunakan nama SURANGGAJAYA. Ada apa, dan mengapa bisa terjadi demikian ? Nama besar Suranggajaya seolah-olah terlupakan, atau memang dilupakan ? Padahal beliau (Suranggajaya) itu adalah tokoh besar dalam sejarah kuningan, yakni beliau itulah yang disebut sebagai Sang Adipati Kuningan, pemimpin keadipatian Kuningan pada masa perkembangan Islam (abad XV – XVI). Baca entri selengkapnya »

Iklan




Pertanyaan Seputar Sejarah Kuningan

20 03 2009

Berkaitan dengan pembahasan Sejarah Kuningan, ada banyak hal yang ingin diungkapkan seiring dengan pihak-pihak yang merasa penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan diantaranya:

1. Silsilah raja-raja penguasa Kuningan zaman Hindu/Budha

2. Silsilah raja-raja penguasa Kuningan zaman Islam (Sang Adipati Kuningan, Dipati Ewangga, Arya Kamuning, dll)

3. Mengungkap tokoh-tokoh seperti: Prabu Langlangbuana, Ratu Selawati,  Syekh Maulana Akbar, Syekh Maulana Arifin, Syekh Ramajaksa, dll.

4. Asal-usul kuda Kuningan, bokor Kuningan

4. Dan artikel sejarah Kuningan lainnya.

Insya Allah, kalau tak ada aral melintang, as soon as possible.





Hipotesa: Antara “PO Luragung Jaya” dengan Sejarah Kuningan

9 03 2009

Bila kita mencermati eksistensi dari Perusahaan Otobis (PO) atau Pengusaha Kendaraan Angkutan Umum jenis Bis yang ada di Kabupaten Kuningan, sejauh yang penulis ketahui misalnya pernah ada Bis “Kuningan Jaya, Buni Geulis, Mitra Sari, Setia Negara, Aman Sejahtera, Luragung Jaya dan Putra Luragung, atau mungkin ada lagi yang lainnya” sepertinya Perusahaan Bis Luragung Jaya merupakan salah satu perusahaan yang tetap menunjukkan eksistensinya yang bertahan lama terus beroperasi sampai sekarang ini.

Terlepas dari seluk beluk urusan internal PO tersebut masing-masing seperti masalah kapan awal waktu kelahirannya (mulai beroperasi), managerialnya, mengapa akhirnya pailit, dll. Yang ingin penulis soroti adalah penggunaan nama “Luragung” dan selanjutnya tambahan kata “Jaya” di suku kata kedua, serta juga “Putra Luragung” (perusahaan anak dari Luragung Jaya) yang sepertinya pemakaian nama “Luragung” ini membawa hoki bagi kelanggengan perusahaan bis ini di saat sekarang ini di Kabupaten Kuningan. Kejadian ini dulu juga pernah dialami oleh perusahaan bis “Kuningan Jaya” yang pernah beropersi cukup lama.

Apakah memang sudah jodohnya seperti itu bahwa Perusahaan Bis milik orang Kuningan yang menggunakan nama dari “Sejarah Kuningan” membawa kiat sukses? Seperti halnya dulu kejayaan yang pernah dialami di zaman Kerajaan Kuningan (seperti dikisahkan dalam Carita Parahiyangan) dan juga eksistensi dari “Ki Gedeng Luragung” (Jayaraksa) yang mempunyai anak Suranggajaya (selanjutnya menjadi Sang Adipati Kuningan). Dua nama tersebut (Kota Kuningan dan Luragung) yang sangat kental diketahui oleh orang Kuningan, dalam sejarah memang bisa dikatakan sebagai daerah-daerah paling tua, yang pertama sebagai cikal bakalnya Kabupaten Kuningan sekarang ini.

Di zaman dulu pernah berjaya Kerajaan Kuningan, dan di zaman kini wujud replikanya diterapkan dalam bentuk pernah berjayanya dari PO Kuningan Jaya (tahun 1970-1980-an). Begitupun nama harum pedukuhan Luragung yang dipimpin Ki Gedeng Luragung di zaman lampau, sekarang replikanya berwujud kepada keharuman PO Luragung Jaya yang sekarang terlihat tetap menunjukkan eksistensinya sebagai satu-satunya Perusahaan Bis yang besar di Kabupaten Kuningan. Believe or not ? Up to you … !!!





Mulok Sejarah

27 09 2008

Dalam materi pembelajaran sejarah, kalau kita melihat acuan kurikulum sejarah (silabus), baik yang KBK maupun KTSP seorang guru berhak untuk mengatur materi pembelajaran sejarah sesuai dengan tingkat kemampuan dan kondisi daerah masing-masing peserta didik. Dalam hal ini, untuk sekolah-sekolah yang khusus berada di Kabupaten Kuningan, mengapa tidak bila guru-guru yang ada di Kuningan memperkenalkan pula sejarah lokal Kuningan ? Belajar sejarah tidak mesti harus yang berskala nasional saja. Justru yang sifatnya lokal/kedaerahan akan terasa lebih dekat dengan jiwa anak-anak daerah, karena sejarah tadi pernah terjadi di daerahnya. Memperkenalkan sejarah lokal bukan berarti akan membangkitkan jiwa chauvinisme daerah dan lantas menghapus rasa nasionalismenya. Tapi setidak-tidaknya bukankah sebelum tahu yang berskala luas, siswa diajak mengetahui dulu yang bersakala lokal (sempit) dulu. Malahan justru kita harus ingat bahwa materi sejarah nasional itu bukankah disusun berdasarkan sejarah-sejarah lokal ? Jadi memang ada baiknya bila siswa-siswa di Kab. Kuningan diajak untuk mengenal sosok sejarah Kuningan.

Baca entri selengkapnya »