“…Tembey Sang Resiguru Ngayuga Taraju Jawadwipa. …”

22 11 2009

Kalau kita mengungkap kembali eksistensi Kerajaan Saunggalah Kuningan yang dipimpin oleh Resiguru Demunawan, ada peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi berkaitan dengan peranan tokoh tua dari Saunggalah ini yang berhasil membawa Kerajaan Saunggalah sebagai satu kerajaan “penting & menentukan”  di tengah-tengah pergaulan dengan kerajaan lainnya, khususnya di Jawa Barat, pada kurun waktu abad ke-8 Masehi. Peranan Resiguru Demunawan itu antara lain berhasil menjadikan Kerajaan Saunggalah sebagai kerajaan “besar” menurut ukuran zaman waktu itu, mampu mensejajarkan diri dengan kebesaran Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda yang telah berdiri terlebih dulu. Selanjutnya Resiguru Demunawan juga merupakan tokoh yang dipercaya untuk menengahi pertikaian ketika terjadi perang saudara antara Manarah (Ciung Wanara) dengan Rahyang Banga di Galuh pada tahun 739 Masehi.

Melihat kondisi umum abad ke-8 Masehi di Jawa Barat, penulis sejarah banyak yang terpaku perhatiannya pada kebesaran dan kejayaan raja Sanjaya yang berhasil menyatukan Kerajaan Galuh dan Sunda. Padahal di lain pihak masih ada satu kerajaan di Jawa Barat yang tidak ditundukkan oleh Sanjaya dan dibiarkan tetap berdiri sebagai negara merdeka, yaitu Kerajaan Saunggalah. Sikap Sanjaya demikian disebabkan ketaatan Sanjaya pada ayahnya, Prabu Sanna atau Sang Sena, agar Sanjaya bersikap lunak pada Kerajaan Saunggalah. Sikap Sanjaya terhadap Demunawan digambarkan dalam Pustaka Kretabhumi I/2 halaman 39-40 sbb:

Rasika tanana katakut ring Sang Demunawan ing Saunggalah, tathapyan mangkana sira tanan angga malurug ring kedatwan uwanira. Hetunya ayayah nira ya ta Sang Prabhu Senna haneng Medang ri Bhumi Mataram ri Jawa Wetan. Kumonaken ajnanihangta: kinon ta sarikadibyaguna ring santana praisantana nira. Haywatta sira lumage wwang sanak ya ta Sang Demunawan. Rumakettamuwang hatut madulur parasparo-pasarpana. Gorawa ning wwang atuha.

[Ia tidak merasa takut kepada Sang Demunawan di Saunggalah, tetapi ia tidak berniat menyerang keraton uwanya, karena ayahnya yaitu Sang Prabu Senna di Medang di Bumi Mataram di Jawa Timur (sekarang Jawa Tengah) mengirimkan perintah begini: ia diharuskan bersikap mulia kepada sanak keluarganya. Tidak boleh ia memerangi kerabatnya, yaitu sang Demunawan. Hormatilah orang tua] (Danasasminta, 1983/1984: 68).

Pada tahun 732 Masehi Sanjaya dinobatkan menjadi penguasa Medang Bumi Mataram yang ditandai dengan pendirian prasasti Canggal yang berangka 654 Saka (6 Oktober 732 Masehi) (Sumadio [ed.], 1984: 98). Sanjaya mewarisi takhta di Medang Bumi Mataram dari ayahnya, Sang Sena (Sang Bratasenna) yang menikah dengan Dewi Sannaha, yaitu puteri Mandiminyak (raja Galuh) dengan Dewi Parwati. Parwati adalah puteri pasangan Ratu Sima dengan Kartikeyasingha raja Keling (Kalingga) di Jawa Tengah. Ketika Ratu Sima wafat, Kalingga dibagi dua kepada Parwati dan adiknya, Narayana. Parwati memperoleh bagian utara yang disebut Bumi Mataram, sedangkan Narayana (bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala) mendapat bagian selatan dan timur yang disebut Bumi Sambara. Tokoh ini yang disebut Hyang Isora raja Balitar dalam CP (Danasasmita, 1983/1984: 51; Ekadjati et al., 1991: 5).

Sebagai konsekuensi dari kepindahan Sanjaya ke Mataram tersebut, maka wilayah kekuasaannya di Jawa Barat diserahkan kepada puteranya yaitu Tamperan Barmawijaya. Karena kepindahan Sanjaya ke Mataram inilah rupanya dianggap suatu moment oleh para penulis Sejarah Kuningan selama ini bahwa pada tahun 732 Masehi adalah berdirinya Kerajaan Saunggalah, yang mungkin dianggap telah lepas dari kekuasaan Sanjaya. Padahal seperti telah diterangkan terdahulu, Kerajaan Saunggalah berdiri tahun 723 Masehi atas bentukan Batara Dangiang Guru (Rahyang Sempakwaja) dan Kerajaan Saunggalah tidak pernah ditundukkan oleh Sanjaya (Kerajaan Sunda).

Dalam rangka hubungan dengan kerajaan lain, terutama yang ada di Jawa Barat, Resiguru Demunawan mempunyai peranan menentukan ketika berhasil mendamaikan perang saudara antara Manarah – Banga di Galuh tahun 739 M. Perdamaian akhirnya berhasil disepakati dengan dibuatnya keputusan sebagai berikut:

1. Negeri Sunda dari wilayah Citarum ke Barat dirajai oleh Sang Kamarasa alias Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Ajimulya.

2. Negeri Galuh dari wilayah Citarum ke Timur dirajai oleh Sang Surotama alias Manarah dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana.

3. Resiguru Demunawan masih menguasai negeri Saunggalah dan bekas Kerajaan Galunggung; dan Sanjaya tetap memerintah di Jawa Tengah. (Danasasmita, 1983/1984: 79-80).

Sebagai upaya mengukuhkan kerukunan antara keturunan Wretikandayun dan Tarusbawa ini, Manarah dan Banga dijodohkan dengan dua orang cicit Resiguru Demunawan. Manarah menikah dengan Kencanawangi, Banga menikah dengan Kencanasari. Dengan demikian berbaurlah darah Sunda-Galuh- Saunggalah. Hal ini kiranya menandakan bahwa telah terjadi upaya pembinaan kerukunan keluarga antara tiga kerajaan di Jawa Barat melalui ikatan pernikahan.

Peranan Resiguru Demunawan yang demikian menentukan dalam saat-saat keturunan Wretikandayun menghadapi kemusnahan karena pertikaian bersenjata, dalam CP dilukiskan sebagai berikut: “...Tembey sang resiguru ngayuga taraju Jawadwipa. Taraju mainya Galunggung, Jawa mati wetan…”, (mulailah sang resiguru mengatur kesetimbangan di Pulau Jawa. Timbangannya adalah Galunggung dan Jawa di sebelah Timur) (Atja, 1968: 28, 53).

Langkah yang diambil Resiguru Demunawan itu kiranya merupakan langkah politik yang bijaksana untuk kepentingan anak cucunya. Resiguru Demunawan telah berhasil menghapus noda darah yang pernah menggenangi keraton Galuh akibat perbuatan kakaknya, Rahyang Purbasora, yang merebut takhta Galuh dari Prabu Sanna (Sang Sena) pada tahun 716 Masehi.


Aksi

Information

12 responses

11 02 2010
eman

sangat menarik ………

9 12 2011
Maman Suryaman

akang hatur nuhun, abdi nyandakan copy paste mugia akang dipasihan kajembaran elmu, manah anu sholeh….

sing manfaat elmuna kanggo balarea,
maman kuningan

13 12 2011
aditya

Muhun… mngga.., mugia aya manfaatna kanggo balarea….

9 10 2012
zen

sae pisan,upami tiasa mah sejarah lutung kasarung na di post keun.anu ceuk sepuh mah aya patilasanana di desa gunungsirah darma.

9 10 2012
zen

sae pisan,upami tiasa mah sejarah lutung kasarung na di post keun.anu ceuk sepuh mah aya patilasanana di desa gunungsirah darma.lokasi kratona aya tras ay leuwi nu d namian cilutung.

5 04 2013
kerta kusuma maheswara

4 07 2013
ihdasoduwuh

Wah mantep bang tulisannya. Apa untuk bikin tulisan seruntut ini perlu baca banyak buku bang? Maaf saya lagi belajar nulis sejarah kayak gitu tapi mentok terus. Salam kenal dari Semarang.

4 07 2013
aditya

Iya betul. Banyak membaca akn menambah wwsan. Teruskn bljr mnulisnya, nanti jg trbiasa. Slm kmbali, trim’s.

27 08 2014
Agil Barkah Disastra

Bismilahirrahmanirrahiim..
Assalamualaikum wr.wb
Salamunqaolammirrobbirrohim..

Inilah salah satu bukti ke-Besaran dan ke-Agungan leluhur kita semua, SUN-DA, hampir 1500 tahun telah terlupakan dan dilupakan serta hampir terkubur sejarah zaman. Inilah cikal bakal lahirnya SUMPAH PALAPA dan WANGSIT SILIWANGI.

“ PERJANJIAN MANGHYUGA TARAJU DJAWA DWIPA”
Manghyuga Taraju Djawa Dwipa terkandung makna sebagai keseimbangan kekuasaan Raja-Raja se Tanah Jawa dan Nusantara, sebagai AS Poros Dunia. Dan ini pulalah sejatinya yang dimaksud dengan slogan Sang Proklamator…..Nusantara adalah Zamrud Khatulistiwa.
Perjanjian ini dilaksanakan atas intruksi/Mandat langsung dari Sri Baduga Jaya Wiragati/Sang Narapati/Sang Mangkuhan Padjajaran/Rang Hyang Tang Kuku/Sang PANDAWA..Maha Raja Kuningan Agung. Perjanjian ini sejatinya mengandung makna : Pembagian peran serta antara TAHTA dan KARESIAN, perjanjian inipun adalah merupakan pengejawantahan dari Dasa Sila/Dasa Kerta/Dang Hyang Kuning/TEN COMMANDEMMENT.
Perjanjian Manghyuga Taraju Djawa Dwipa dilaksanakan sekitar 661 SM di Kerajaan Panggung Kuning Medang Kamuliaan Kuningan (yang sekarang bernama Desa Taraju). Perjanjian ini dipimpin langsung oleh Maha Raja Resi Guru Seuweukarma/ Raden Demunawan/Prabu Parikesit Maha Raja Saunggalah dan disaksikan langsung oleh Sang Rama Wijaya/Prabu Yudhistira/Sang Begawan Narapati Wasubrata/Sang Sami Aji/Sang Pandawa.. MAHA RAJA KUNINGAN MEDANG KAMULIAAN. Perjanjian ini pun dihadiri pula oleh para Raja dan Resi, para Prabu, para Dipati, para Menteri, Pandita, Pemuka Agama dan utusan dari beberapa Negara luar yang merupakan wilayah kekuasaan Sang Pandawa.

ISI PERJANJIAN MANGHYUGA TARAJU DJAWA DWIPA :
1. Mengakhiri perseteruan, harus saling memaafkan dan harus menjalin persahabatan, membantu dan tolong menolong diantara sesama;
2. Diantara yang bertikai tidak boleh melakukan pembalasan karena mereka masih bersaudara dan para tawanan harus dibebaskan.
3. Apabila terjadi pertentangan kembali harus diakhiri dengan perdamaian melalui musyawarah. Hubungan kekerabatan persaudaraan tidak boleh putus asa, harus saling menyayangi dan tidak boleh menundukan Negara lain.
4. Mengangkat dan menobatkan Raden Kamarasa/Rang Hyang Banga/Sang Jaya Jago sebagai Raja Penguasa Sunda. Batas kekuasaan wilayahnya dari batas pusat Ibu kota Saunggalah ke sebelah barat sampai Ujung Kulon. Beliau dinobatkan sebagai Prabu Kreta Bhuana Yasawiguna Hajimulia.
5. Mengangkat dan menobatkan Raden Surotama/Rang Hyang Manarah/Ciung Wanara/Arya Santana sebagai Raja Penguasa Galuh. Batas kekuasaan wilayahnya dari batas wilayah Ibu kota Saunggalah ke sebelah timur sampai sungai Cipamali meliputi Banyumas. Beliau dinobatkan sebagai Prabu Djayaperkasa Mandala Iswara Salaka Bhuana.
6. Mengangkat dan menobatkan Sang Hyang Seuweukarma/Raden Demunawan Raja Saunggalah sebagai Maha Prabu Resi Guru dan sebagai Susuhunan/yang dipertuakan di Tanah Jawa. Kemudian mengangkat dan menobatkan Raden Sandjaya Haris Dharma Yudha sebagai penguasa wilayah Medang Bumi Mataram.
7. Semua bentuk kegiatan perdagangan dan penangkapan ikan di laut dibebaskan, setiap wilayah harus dijaga oleh masing-masing Kerajaan.
8. Semua tempat peribadatan harus dijaga keamanannya, penduduk dibebaskan untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya dan mereka harus saling menghormati.
9. Semua Adat istiadat dan Budaya pribumi harus dilindungi.
10. Wilayah kekuasaan Sang Hyang Resi Guru Seuweukarma sebagai Raja Saunggalah meliputi semua wilayah yang merupakan kekuasaan Sang Pandawa sebagai Raja Jagat Pati yang harus dihormati oleh semua pihak. Diantara mereka yang bertikai tidak boleh melanggar perjanjian yang telah disepakati. Harus sejalan dengan peraturan dan kaedah Sang Maha Pencipta Yang Tunggal, agar senantiasa diberikan Rahmat dan Kejayaan untuk putra putri hingga cucu di masa yang akan datang.

2 05 2015
orang biasa

Buktikan! Jangan hanya sekedar “BANGGA” akan kebesaran masa lalu!! Jangan hanya sekedar cerita!! Sampai dimana batas sunda? Hanyalah semu belaka! Sikap saja masing2,mentingin diri sendiri, saling curiga satu sama lain, tanah sendiri dijajah sama orang luar!! mana? Mana orang sunda! Yang katanya tempat seluruh dewa bernaung? Hanya materi dan gelimang harta fokus orang sunda! Bukan kebangkitan untuk membuat seluruh alam semesta berdecak kagum dan tunduk kembali pada seluruh trah orang sunda. dimana para pemimpin sunda yg takut sama asing dan hanya jago kandang? Sama tetangga kerajaan berani. Sama luar negeri takut? Atau hanya puas sebagai menteri? Sadarilah semua hanya dongeng. jika memang ada Kenapa mereka semua para leluhur sakti,penguasa peradaban, dewa ini itulah kagak ngebantu orang sunda jadi orang besar!!! Mana mereka?? Dimana?? Belum pernah ada keajaiban!! Fokus dukung orang sunda jadi presiden rebut kembali takhta yang telah lama hilang!!!! Saya harap semua nya berubah kembali menjunjung nilai pribadi sunda. Jangan hanya tinggal sejarah. seluruh iblis dan mahluk jahat pun tidak tinggal diam .seluruh cara digunakan untuk menggagalkan pemimpin sunda. Kembali lah bersatu putera-puteri raden sunda.. kuasai seluruh nusantara! Gw mau denger orang sunda main suku!! Seperti orang makassar.sumatra.ambon.dan yg pasti jawa.
Orang sunda harus main suku!! Hanya sunda . Tidak dengan yang lain! coba buktikan. balas komen gw! (Panji)

26 05 2015
ade priatna

Kang lanjut aja skalian dengan cerita tangkuban parahu. Saurna kan nu leres na mah ti kuningan carita eta teh. Abdi oge saur jalmi sepuh

4 08 2015
Annisa Nuraida

Pak, saya penasaran sejarah karang gantungan.. kalau Bapak punya sejarahnya coba posting ya pak. Terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: