3 Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kerajaan di Kuningan

17 03 2009

Menggali kembali eksistensi dari zaman pemerintahan kuna di Kuningan, setidaknya ada 3 tempat di Kuningan yang pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan (ibukota) kerajaan, baik kerajaan zaman Hindu/Budha maupun zaman Islam. Tiga daerah yang dimaksud adalah:

1. Daerah sekitar Kecamatan Darma. Dalam PRBN dan sumber yang ditulis Saleh Danasasmita menyebutkan nama Darma Agung pernah tumbuh sebagai sebuah pemerintahan yang meneruskan jejak Kerajaan Saunggalah. Jejak sejarah Kerajaan Saunggalah sendiri dalam masa akhir pemerintahan belum banyak bisa terungkap dengan jelas bagaimana urutan raja-raja yang pernah memerintahnya, dan bagaimana akhir riwayatnya. Sebagaimana diketahui bahwa Saunggalah Kuningan pertama dibangun dibawah pemerintahan Resiguru Demunawan atau Sang Seuweukarma atau Rahyangtang Kuku atau Sang Kuku. Masa pemerintahan beliau sangat lama, dalam CP dituliskan bahwa beliau wafat dalam usia sangat tua. Beliau meninggalkan dua orang putri, yang menikah masing-masing dengan Rahyang Banga (Raja Sunda), dan Sang Manarah (=Ciung Wanara) – Raja Galuh. Selanjutnya diduga bahwa Kerajaan Saunggalah akhirnya berada di bawah pengaruh pemerintahan Galuh dan Sunda. Sampai kelak di kemudian hari muncul lagi berita bahwa di abad 10-11 Prabu Ragasuci pernah bernaung di Saunggalah. Maksudnya Keraton Saunggalah Kuningan dijadikan lagi pusat pemerintahan oleh Kerajaan Sunda. Adapun letak pusat pemerintahan Saunggalah diduga berada tidak jauh dari tempat ditemukannya reruntuhan candi di Bukit Sangiang Desa Sagarahiyang Kec. Darma. Dalam tradisi Hindu bahwa pendirian candi sering pula dikaitkan dengan moment pendirian suatu kerajaan. Artinya di mana ada candi besar kemungkinan di sekitar daerah tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan. Dalam hal ini berarti letak ibukota Kerajaan Saunggalah Kuningan  tidak jauh dari Desa Sagarahiyang Kecamatan Darma. Malahan menurut Saleh Danasasmita dan Edi Ekadjati menyebutkan bahwa di Desa Ciherang (tidak jauh dari Desa Sagarahiyang) ada tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat sebagai bekas “saunggalah”. Sayangnya ekskavasi bekas reruntuhan keraton Saunggalah ini sampai sekarang belum bisa dibuktikan keberadaannya. Atau memang tidak bisa dibuktikan karena istana atau keraton Saunggalah dibangunnya dari bahan yang mudah lapuk, yaitu kayu dan bambu.

2. Luragung. Di daerah Luragung pernah tumbuh dan berkembang pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung atau Jayaraksa pada masa kedatangan Islam ke Kuningan. Bahkan diduga ketika masih zaman Hindu pun di Luragung pernah berdiri pemerintahan bercorak Hindu dipimpin Prabu Luragung. Kata “Luragung” sendiri konon mempunyai beberapa makna, yakni berasal dari Lor Agung, atau Lurah Agung. Menurut sumber Cirebon (Carita Purwaka Caruban Nagari) bahwa ketika proses Islamisasi daerah Kuningan, Sunan Gunung Jati pernah singgah di Luragung. Kemudian istri beliau, bernama Puteri Ong Tien atau Nyai Rara Sumanding, dalam kondisi hamil menyusul ke Luragung. Tiba di Luragung ternyata bayi yang dikandungnya itu lahir, tetapi meninggal dunia. Untuk mengobati kesedihan istrinya tersebut Sunan Gunung Jati kemudian mengangkat anak dari putera Ki Gedeng Luragung, bernama Suranggajaya, untuk dijadikan putera angkat. Kelak, putera angkat Sunan Gunung Jati inilah diangkat menjadi Sang Adipati Kuningan.

3. Desa Winduherang dan Purwawinangun. Di desa ini terdapat beberapa peninggalan sejarah berupa makam (kuburan) tokoh-tokoh leluhur Kuningan, seperti makam Adipati Kuningan, Pangeran Arya Kamuning, Dipati Ewangga, Syekh Ramajaksa, dll. Biasanya tokoh-tokoh terhormat ini dimakamkan tidak jauh dari tempat tinggal mereka ketika hidupnya. Oleh sebab itu diduga bahwa pusat pemerintahan (ibukota) Kerajaan Kuningan pada masa tumbuh dan berkembangnya Islam berada di sekitar (tidak jauh) dari lokasi makam-makam tokoh leluhur Kuningan tersebut, yaitu Winduherang, Sidapurna, atau Purwawinangun yang berada di satu naungan wilayah kota Kuningan sekarang. Bahkan kalau kita lihat letak kantor Bupati Kuningan sekarang (Jalan Siliwangi No.88 Kuningan) berdekatan dengan Astana Gede Kelurahan Kuningan, sebenarnya di situlah memang “puseur dayeuh” Kuningan di zaman tumbuh dan berkembangnya Islam. Kantor Bupati Kuningan ketika zaman Hindia Belanda pernah didirikan di selatan alun-alun Kuningan (selatan Masjid Syiarul Islam) yang sekarang jadi taman kota Kuningan (sebelumnya pernah jadi terminal bis/angkot, dan Kuningan Plaza). Karena kejadian meletusnya Gunung Ciremai, kantor Bupati selanjutnya pindah ke lokasi sekarang. Berpindahnya bangunan pusat pemerintahan lazim dilakukan bilamana bekas bangunan lama tertimpa musibah. Untuk menghindari nasib naas atau kejadian yang tidak diinginkan lagi ternyata kantor Bupati sepertinya tertarik gaya magnetik, yaitu back to basic ke tempat yang tidak jauh ketika Sang Adipati Kuningan memerintah, yaitu Winduherang, Sidapurna, dan Purwawinangun suatu lokasi bersejarah buat warga Kabupaten Kuningan.

Aksi

Information

14 responses

25 12 2009
rai

sejah jangan sampai hilang

9 03 2010
hery

salam…

Mengenai makam Adipati awangga ada informasi bahwa beliau dimkamkan di Kota Jakarta tepatnya di daerah Kuningan .sekarang menjadi Gedung Telkom…!!!!!

9 03 2010
aditya

Hatur nuhun, nambihan informasina.

14 06 2011
Wangsa Surya Pajajaran

sebagai keturunan wangsa pajajaran,hrs bisa mencintai dan melestarikan kebudayaan dan ajaran dari wangsa pajajaran.jngn sampai hilang tenggelam ditelan zaman

13 11 2011
Donald Tick

Dear Sir; I know Kuninggan is ca. 1930 an area with some vllages under before the rule of Sultan2 Cirebon and ruled each by a pangeran.Kuningan now also has a dynastychief?hank you. Salam hormat: DP Tick gRMK secr. Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka” Vlaardingen/Belanda http://kerajaan-indonesia.blogspot.com

21 12 2011
Boim kayawongwiswanoh

Nama SURANGGA JAYA bukannya ada di cibingbin, dan itu merupakan pendiri atau buyut dr desa cibingbin.

21 12 2011
Boim kayawongwiswanoh

Nama SURANGGA JAYA bukannya makamnya ada di desa cibingbin, dan itu merupakan pendiri atau buyut dr desa cibingbin.

25 12 2011
Pan Kania

Mohon informasinya, bagaimana keadaan reruntuhan candi di ukit Sangiang Desa Sagarahiyang Kec. Darma? Apakah masih bisa dilihat, dan apakah mobil bisa digunakan menuju tempat tersebut?
Terima kasih,

9 01 2012
aditya

Mobil hanya bs sampai ke pusat Desa (Balai Desa), berikutnya untuk ke bukit tsb harus jalan kaki.

22 08 2012
Ita

D kabupaten kuningan ada nama raden mas jayabaya ga, ??
Klo ada tolong minta alamat lengkapnya. Makamnya d mana,,?

28 03 2013
mira

kalau sejarah luragung yang diberikan kake saya, itu karna ada raja yang mencintai adik kandungnya sendiri, karna sang adik tak mungkin mencintaai kaka nya, sang adik merubah wujudnya menjadi buruk rupa (disebut eyang sulanggir kuning) dan meninggalkan sang kaka.
jadi luragung berasal dari kata LUR dan AGUNG
lur = ngelurkeun/meninggalkan
agung = pangeran agung

26 05 2013
Bryan pebryana Arya Wikara

yg penting ambil hikmah nya dengan sejarah leluhur kita,bilapun ada peninggalnnya jangn sampai menjadikan kemusrikan bagi kita…HENDRA pluto

24 06 2013
Agil Barkah Disastra

BISSMILLAHIROHMANNIRROHIM.

ASSALLAMUALLAIKUM WR WB….

SALAMUNQAOLAMIROBBIRROHIM.

KAHATUR KALUHURAN PANGAGUNGNA … SHANG HYANG BHATARA SURYA PANGERAN ARYA ADIPATI EWANGGA…..

PADA ZAMANNYA DAHULU KALA … PARA DIPATI ATAU PARA RAJA SELURUH DUNIA .. MENGHADAP BELIAU PADA SETIAP ( 1 ) S U R A…. DISETIAP TAHUN NYA, SEBAGAI BENTUK TANDA PENGHORMATAN DAN BHAKTINYA KEPADA ” SANG RAJA DUNIA ” ATAU DIKENAL DENGAN NAMA E W A N G G A / SURALIMAN SAKTI / SRI BAGINDA SYEH JAFFAR .. ” THE GREAT OF ALEXANDER “.

BELIAU BERKEDUDUKAN DI IBUKOTA SUN-DA TEPATNYA ” THEBE ” ATAU DIKATAKAN TEBET, WINDU HERANG MEDANG KAMULIAAN KUNINGAN, SEBAGAI TEMPAT ” KAHIYANGAN KUMINTIR AWANG AWANG DAN KAHIYANGAN MANIK MANINTEN “.

WASSALLAMUALLAIKUM WR WB. ”

Kejayaan Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bhima Prakarma Sang Iswara Dig Wijaya Surya Maha Purusa Jagat Pati, Atau Sang Hyang Bhatara Surya atau Dewangga Sura Liman Gautama Sakti sebagai Raja Kuningan Agung Emas LIEM Yang Dimuliaakan sudah menguasai Dunia Barat dan Timur pd jaman kala Brata berkisar 200 ~ 300 Saka Masehi. dan beliau dikenal sebagai Great Alexander I.

Beliau adalah Penguasa Root Cosmologi ke beberapa Dinasti China yang nanti akan membukakan Kerajaan Melayu. Dimana Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Sang Iswara atau Sang Hyang Bhatara Surya Ewangga Sura Liman Gautama Sakti sendiri sebagai Pendiri dan Pelaksana langsung Wilayah Ratu Melayu, yang pada saat itu beliau berkedudukan di Swarna Bhumi tepatnya Pangkal Pinang atau Pulau Timah, yg sekarang menjadi nama Bangka Belitung… disitulah beliau menikah dengan RATU DEWI MUTIA SARI.

Beliau Sri Purnawarman Ewangga Bhatara Surya sebagai Jagat Pati Bhuana mempunyai seorang anak perempuan yg bernama Ratu Khandyawati atau Ratu Kaniya… Setelah berkuasa lama sebagai Raja Dunia…dalam waktu yg bersamaan Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Ratu Ewangga menikah pula dengan Ratu Kahiyangan__ RATU DEWI KWAN IM atas segala petunjuk dan pemberian Sang Hyang Wenang Maha Mantri dan Sang Hyang Tunggal Raja Mantri, yang kemudian beliau bergelar Sang Sura Liman Gaung Utama Sakti Maha Purusha Jagat Pati.

Dari situlah kemudian Sri Baginda Maha Raja Purnawarman sebagai Penguasa Dunia Raja Sang Hyang Kuningan Agung Emas yang dimuliakan menunjuk __SRI JAYANASE __dari Garis TAN dan CHAN Dinasti Kerajaan Besar China untuk memegang kendali dan menjadi Raja Pertama Melayu setelah ditikahkan dengan puterinya yg bernama Ratu Khandyawati sebagai penguasa Laut Merah.

Selanjutnya Sri Jayanase diberikan Gelar SRI HAJI JAYANASE PRAMESWARA yg berkedudukan di Pulau Timah atau Pangkal Pinang Swarna Bhumi atau Pulau Bangka.

Beliau Sri Baginda Maharaja Purnawarman Sang Hyang Bhatara Surya bersama Sang Maha Mantri dan Raja Mantri kembali lagi ke tempat yg disamarkan tepat’a di Medang kamuliaan Kuningan Agung Emas yang Dimuliakan sebagai tempat Sang Terbit dan Terbenam’a Matahari…

CATATAN SANG RAJA RESI DEWA RAJA.

Dalam satu Catatan Risalah Sang Raja Resi Dewa Raja… :

Tertuliskan setelah 1600 tahun yang lalu, disaat Sang Raja Resi Dewa Raja Sura Liman Sakti Ewangga Sri Baginda Maha Raja Purna Warman Bhima Prakarma Sang Iswara Dig Wijaya Surya Maha Purusa sebagai Raja Dewa dari Medang Kamuliaan Kuningan Penguasa Sunda atau Moho-Sin sebagai Penguasa Asia Timur Raya dan Barat …menginjakan kakinya di Pulau Swarna Bhumi Sumatera dan Semenanjung Malayu dan Cina.

Disaat Beliau Sang Raja Resi Dewa Raja Ewangga dan Sang Permaisuri Ratu Sri Dewi Quan Im bersama Sang Maha Mentri dan Raja Mentri menyaksikan keturunannya membuka wilayah Tepatnya sekarang yang dinamakan Palembang, Beliau berkata ..sebagai Sang Raja Resi Dewa Raja bersama Keturunnya para Prabu Raja-raja Medang Kuningan .. :

“ Aku datang untuk Cahayamu…Aku Buat Surga Indralaya untuk Keturunanmu…. dan Aku buat Tanda Kebesaran Prasasti-ku di Batu Raja. ”

” Aku Panggil dia Pai Liem…dan Aku beri nama itu dari nama lain-ku sebagai Hamba Kesayangan-ku…. Sang Maha Mentri-ku memberi nama-mu .. Sri Haji Depuhyantang. ”

” Aku Nikahkan dia dengan Ratu Soba Kancana yg sangat Cantik Jelita Putera dari Pangeran Lingga Kusuma Yudha Sang Lingga Warman Raja Kuningan. ”

” Aku Nobatkan…Aku Angkat Pai Liem Sri Haji Depuhyantang sebagai Raja…. Kuberi nama dari Kejayaan-ku ..Moho-Sin Sunda.. menjadi.. : Sri Wijaya. ”

Disaksikan Sang Raja Amartha Pura Sang Pandawa Raja Kuningan Sri Maha Prabu Rama Wijaya Sri Baginda Maha Raja Candra Warman sebagai Cucu-ku untuk Mengukuhkan mereka Sri Haji Depuhyantang dan Ratu Soba Kancana sebagai Raja dan Ratu Sri Wijaya.

Aku Bangun tempat-mu untuk menjadi satu tempat Pendidikan dan Tempat Beribadah terbesar di Asia Timur Raya sebagai satu Tanda Panji Kebesaran Yang Agung Yang Dimuliaakan untuk anak keturunan-mu kelak yang di Berkahi…

Semua sudah Ku-besarkan dan semua sudah Ku- jalankan sebagai Tanda Mulia-ku untuk anak keturunan-ku…. sehingga sudah waktunya aku Pergi Sang Hyang.. bersama para Prabu untuk kembali ke tempat Asalku … Medang Kamuliaan Kuningan sebagai tempat Surga nya Para Dewata…..

Dan Ku-berikan nama tempat kepergian-ku itu dengan nama..” Prabu Mulih.”

Makam Pangeran Arya Adipati Ewangga berada di Winduherang.

Putra dari Sinuhun Sunan Jati/Sunan Gunung Jati dari istrinya Putri Ong Tien Nio bernama Raden Gantangan yg dididik dan diasuh oleh Pangeran Arya Kamuning/Prabu Munding Laya. sesudah dewasa Raden Gantangan bergelar Adipati Kuningan. dalam masa perjuangan membebaskan Batavia dari cengkraman Portugis Raden Gantangan bergelar FATAHILLAH/FALETEHAN.

# Mengenai Luragung,..Luragung adalah Wilayah Galuh Pakuan dengan dengan kepala pemerintahannya yaitu Raden Raksa Jaya Manggala/Raden Sura Jaya Manggala/Buyut Pamijan/Buyut Nurmijan/Syeh Nurfadilah yeng bergelar Ki Gedeng Luragung. Raden Sura Jaya Manggala adalah adik dari Raden Suranggana Jaya atau yg lebih dikenal dengan nama Syeh Maulana Akbar merupakan putera dari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Jaya Dewata/Ratu Guru Haji/Jaya Prana Maha Prabu Silihwangi Susuhunan SUNDA dari istrinya yang kedua yakni ibu Ratu Narawati/Ibu Ratu Sindang.

24 06 2013
Agil Barkah Disastra

PANGERAN RAMA JAKSA PATIKUSUMA/Eyang RAMA JAKSA
makamnya ada di Winduherang Kuningan

BISSMILLAHIROHMANNIRROHIM …
ASALAMUALAIKUM WR WB ..

SALAMUNQAOLAMIROBBIRROHIM ..
.
KALUHURAN PANGAGUNGNA …SANG RAMA JAKSA PATI KUSUMA … SANG MANGUKUHAN PADJADJARAN / PRABU YUDISHTIRA SANG RAMAYANA.

Beliau memiliki banyak nama gelar kebesaran, pada tiap tempat dan zamannya, diantaranya … :

Sang Sami Aji / Sang Aji Rasa / Sang Balarama / Sang Basudewa / Sang Maha Basurata / Sang Parasurama / Sang Halayuda / Sang Ciwanjiri / Sang Rama Candra / Sang Aditya / Sang Sri Gati / Sang Wira Gati / Sang Dharma Kusuma / Sang Begawan Narapati Wasubrata / Sang Aji Saka / Sang Hariswangsa Maha Purusa Sakti Surala Dewangga Agung Sang Para Amarta…. SANG PANDAWA, 437 SM …… Maha Raja Kuningan Medang Kamuliaan..

BELIAU ADALAH PUTRA MAHKOTA.. PANDU DEWA NATA / SANG HYANG BATARA WISNU. BELIAULAH YANG MENGELUARKAN KITAB AJARAN ” DANG HYANG KUNING ” YANG BERISIKAN 10 PEDOMAN KEBAIKAN HIDUP UMAT MANUSIA…DAN BELIAU PULALAH YANG MENGELUARKAN .. ” HASTA BRATA ” DAN TRI TANGTU ( Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif ). BELIAUPULA DIJULUKI SEORANG RESI LAMBANG ” KESUCIAN HATI “.

Bulan Nu Nyaangan … Bulan Nu Ngabingah Dina Ati Manusa Nu Keur Poek… Restu Kana Bagja, Restu Kana Rasa Anu Jadi Cahya sa-Atina .. Sri Badranaya.. Ku Endah Purnama Sri Rama Wijaya,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: