Pemerintahan Setelah Sang Adipati Kuningan

28 10 2009

Menurut sumber tradisi Kuningan bahwa setelah Sang Adipati Kuningan meninggal dunia, ia digantikan oleh salah seorang putranya yang dikenal dengan julukan Geusan Ulun. Sumber lain menyebutkan bahwa Geusan Ulun Kuningan tersebut sebenarnya bernama Kusumajaya. Nama Geusan Ulun pada kurun waktu yang sama (sekitar abad XVI-XVII) juga dikenal di daerah lain yaitu Geusan Ulun Sumedang, yang bernama Angkawijaya. Geusan Ulun pengganti Sang Adipati Kuningan ini diberitakan mempunyai banyak istri. Mungkin sekali perkawinan yang dilakukannya itu mempunyai arti politik. Wanita-wanita yang diperistrinya itu mungkin puteri-puteri dari tokoh-tokoh setempat yang mempunyai kedudukan penting atau berpengaruh di daerahnya. Diceriterakan bahwa Pangeran Geusan Ulun Kuningan mempunyai 40 putera-puteri, yang kebanyakan mendapat sebutan “Dalem”. Adapun nama ke-40 orang putera-puteri Geusan Ulun seperti dikenal dalam ceritera rakyat adalah sebagai berikut:

1. Dalem Mangkubumi, yang dimakamkan di Purwawinangun

2. Dalem Citangtu, dimakamkan di Desa Citangtu

3. Dalem Pasawahan

4. Dalem Panyilih

5. Dalem Koncang

6. Nyai Panembahan Girilaya

7. Dalem Aryajaya

8. Nyai Gedeng Anggadiraksa

9. Nyai Gedeng Jati

10. Dalem Kasturi

11. Dalem Dagojawa, dimakamkan di Purwawinangun

12. Nyai Kuwu Cirebon Girang

13. Adipati Ukur

14. Nyai Gedeng Panguragan

15. Dalem Winduherang, dimakamkan di Purwawinangun

16. Dalem Salahonje

17. Dalem Nayapati

18. Nyai Aria Salingsingan

19. Dalem Karawang

20. Dalem Amonggati (Somagati), dimakamkan di tepi Sungai Citamba

21. Dalem Cihideung

22. Dalem Cengal

23. Nyai Musti

24. Dalem Keko

25. Dipati Barangbang

26. Dalem Paduraksa

27. Dalem Cigugur

28. Dalem Tembong

29. Dalem Cikandang

30. Nyai Dalem Sumedang

31. Dalem Cibinuang, dimakamkan di Desa Cibinuang

32. Dalem Maruyung

33. Dalem Bolostrong

34. Dalem Tarka

35. Dalem Haurkuning

36. Dalem Wirajaya, dimakamkan di Kelurahan Kuningan

37. Dalem Mungku

38. Dalem Cigadung

39. Dalem Cageur

40. Dewi Ratna Cempaka

(Sumber : Tisnawerdaya dan Mansur, t.th: 16-17).

Dari nama diri atau julukan para putera Geusan Ulun itu dapat ditafsirkan bahwa sebagian besar dari mereka menjadi penguasa lokal atau menjadi istri penguasa lokal di wilayah Keadipatian Kuningan dan luar Kuningan. Beberapa orang puteranya disebut dengan julukan dalem yang diiringi dengan nama tempat kedudukannya. Dalem adalah julukan bagi seseorang yang pernah menjadi kepala pemerintahan di sebuah daerah tertentu.

Adapun putera tertua Geusan Ulun yang disebut Dalem Mangkubumi selanjutnya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati (di) Kuningan, tetapi dalam lingkup kekuasaan dan daerah yang lebih kecil. Bisa jadi ia mengkoordinir daerah-daerah lainnya yang diperintah oleh adik-adiknya. Kemungkinan Mangkubumi itu bukan nama diri, melainkan sebagai nama gelar atau julukan. Dalam susunan pemerintahan di Kerajaan Sunda, mangkubumi itu merupakan nama jabatan di bawah kedudukan raja yang bertugas menangani hal-hal yang bertalian dengan urusan tanah.

Sehubungan dengan tokoh Dalem Mangkubumi, terkait dengan nama Kebumen yang terletak di sebelah selatan Masjid Syiarul Islam sekarang. Lokasi tersebut adalah bekas tempat kedudukan Dalem Mangkubumi ketika memegang pemerintahan. Kata Kebumen dari ka-bumi-an yang bermakna lokasi atau tempat, menjadi kabumian lalu berubah menjadi kebumen. Kebumen mengandung arti tempat tinggal pemegang pemerintahan (mangkubumi). Memang kegiatan pemerintahan di daerah Kuningan dulu berpusat di sekitar alun-alun kota Kuningan (sekarang halaman Masjid Syiarul Islam Kuningan). Hal itu sesuai dengan konsep tata kota lokasi pusat pemerintahan menurut tradisi Cirebon. Bahwa pusat kota atau bangunan tempat kegiatan pemerintahan (keraton, pendopo kabupaten) terletak di sebelah selatan alun-alun, mesjid sebagai tempat ibadah di sebelah barat alun-alun, pasar sebagai tempat kegiatan perdagangan di sebelah utara alun-alun, dan penjara sebagai tempat tahanan penjahat di sebelah timur alun-alun. Demikianlah, Kebumen itu sejak masa lalu telah menjadi tempat kedudukan “penguasa Kuningan”, sampai akhirnya Kabupaten (ka-bupati-an/ tempat kedudukan bupati) ini pindah ke tempat sekarang (Jl. Siliwangi 88) yang tadinya merupakan tempat kediaman asisten residen pada masa Hindia Belanda.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: