Ada Apa Dengan Nama “Kuningan” ?

7 12 2009

Ada satu pertanyaan yang selalu menggelayut dalam pikiran, dan dengan suatu kerangka pemikiran yang sedemikian rupa (relatif ilmiah?) saya berusaha mencoba memberikan suatu jawaban atas pertanyaan tadi yang kiranya dapat diterima oleh nalar keilmuan yaitu berkenaan dengan penggunaan nama sebuah tempat yaitu KUNINGAN, sebagai nama satu daerah yang kini menjadi salah satu kabupaten di Jawa Barat. Sebenarnya sejak kapan sih nama Kuningan ini dipakai bila menilik sejarahnya?,  seberapa lama atau tua?, pernah menjadi nama sebutan atau julukan apa saja Kuningan itu?, bagaimana bila dibandingkan dengan usia ketuaan dari nama daerah-daerah lainnya yang kini eksis di Jawa Barat sebagai nama kabupaten-kabupaten, sudah tuakah atau bahkan paling tuakah Kuningan itu? Kita akan coba membedahnya dalam pembicaraan kali ini.

Bila kita melihat sejarah daerah-daerah ibukota kabupaten di Jawa Barat, nama Kuningan yang sekarang termasuk salah satu Kabupaten di wilayah III, yaitu Jawa Barat sebelah timur bersama dengan Kab & Kodya Cirebon, Kab. Indramayu, dan Kab. Majalengka barangkali nama “Kuningan” telah lebih dulu disebut dalam sejarah sebagai daerah yang paling dulu ada. Demikian halnya dalam skala lebih luas di luar wilayah III Cirebon.

Di Jawa Barat ini lebih dari 20 kab/kod (yakni 26 kab/kod menurut data terakhir prop Jabar), yang masing-masing kabupaten/kotamadya ini tentunya punya latar sejarah perjalanan hidupnya masing-masing. Dan kalau kita membuka sejarah berdirinya tiap kabupaten/kotamadya yang ada di Jawa Barat ini (melalui search engine ke google dll.) akan nampak perbadingan angka tahun kapan suatu kabupaten/kodya dimaksud itu berdiri, misalnya: Kab. Cirebon – 1482, Kab. Bandung – 1641, Kab. Garut – 1813, Kab. Tasikmalaya – 1913, Kab. Ciamis – 1915 . Bahkan ada nama-nama kabupaten dalam sejarahnya itu pernah menggunakan nama yang berbeda, misalnya ada Timbanganten, Limbangan (Garut), Imbanagara, Galuh (Ciamis), Sukapura (Tasikmalaya), Caruban (Cirebon).

Selanjutnya bagaimana dengan Kuningan ?…… Menurut sumber Pemda kab. Kuningan bahwa titimangsa lahirnya Kab. Kuningan mengambil dari peristiwa pelantikan putera angkat Sunan Gunung Jati (Suranggajaya, putera Ki Gedeng Luragung) menjadi seorang Adipati (adipati = raja kecil) di Kuningan, yaitu tgl 1 September 1498. Penempatan & penetapan putera angkat Sunan Gunung Jati ini barangkali dapat dikatakan bahwa Kuningan saat itu berada di bawah pegaruh (kekuasaan) Kerajaan Islam Cirebon. Kemudian menurut pendapat Bpk. Sobana Hardjasaputra (Unpad) penetapan Kabupaten Kuningan seharusnya mengacu pada Peraturan No 23 th 1819 (staatsblad Hindia Belanda) yang menetapkan nama Kuningan sebagai nama satu dari lima Kabupaten di bawah naungan Keresiden Cirebon, yaitu: Cirebon, Maja, Bengawan Wetan, Kuningan, dan Galuh. Berarti berdasarkan staatblad bahwa th 1819 itulah sebagai awal berdirinya Kuningan sebagai nama Kabupaten (= pemerintahan daerah Tk II). Namun dalam hal ini, bukan mencari penetapan dasar hukum (de jure) tentang berdirinya Kuningan sebagai nama kabupaten yang akan kita tinjau, melainkan eksistensi penggunaan nama “KUNINGAN” itu sendiri sebagai nama daerah atau tempat secara de facto yang akan kita soroti.

Kalau kita merunut pada salah satu sumber sejarah yaitu naskah kuno Carita Parahiyangan, yang diperkirakan ditulis pada akhir masa pemerintahan Kerajaan Padjadjaran (1579/1580), naskah ini di dalamnya menuliskan dengan jelas kata-kata KUNINGAN sebagai nama suatu tempat atau daerah. Tempat bernama Kuningan ini berada dalam suatu lingkup keadaan yang digambarkan pernah eksis bersama dengan Galuh, Sunda, dan Galunggung; yaitu pada kurun waktu ketika raja Sanjaya mulai menguasai Kerajaan Galuh (abad ke-7 M). Berarti dari keterangan ini dapat diduga bahwa daerah bernama Kuningan itu sebenarnya telah ada pada abad ke-7 Masehi. Pada waktu itu di Kuningan ada pemerintahan bercorak kerajaan bernama Saunggalah yang diperintah Sang Seuweukarma atau Resiguru Demunawan. Bahkan disebutkan pula bahwa sebelum Demunawan berlangsung pemerintahan di Kuningan yang dipimpin Sang Prabu Wiragati (Sang Pandawa), bersama Sang Wulan dan Sang Tumanggal. Dari hal tersebut berarti bisa terjadi bahwa sebelum abad ke-7 M pun nama “Kuningan” sebenarnya telah ada atau eksis sebagai nama sebuah tempat yang menurut setting historisnya jelas berada di lokasi propinsi Jawa Barat sekarang.

Yang menjadi daya tarik untuk diungkapkan adalah tentang eksistensi nama “Kuningan” yang berarti usia ketuaannya sederajat atau satu level dengan nama “Galuh” dan “Galunggung”. Dalam perkembangan berikutnya 3 nama tempat ini mengalami “degradasi” yang berbeda, yakni nama “Kuningan” tetap abadi dipakai hingga menjadi nama kabupaten sekarang ini, sementara penggunaan nama “Galuh” dan “Galunggung” mengalami perubahan, yakni Galuh menjadi nama kabupaten Ciamis, dan Galunggung mejadi nama tempat (gunung) di Tasikmalaya sekarang ini.

Sementara itu dalam masa peralihan dari zaman Hindu ke zaman Islam, konon nama Kuningan pernah mendapat sebutan lain yaitu KAJENE yang diambil dari bahasa Jawa (?) yang artinya sama dengan “Kuning yang agung”. Namun sayang tidak diperoleh keterangan yang pasti berapa lama penggunaan nama Kajene ini dipakai dan pada masa pemerintahan siapa yang mengendalikan Kuningan saat itu.

Sayangnya memang belum ada sumber sejarah pendukung & pembanding lainnya, hanya sebatas keterangan naskah CP dan tradisi setempat. Namun walau bagaimanapun, isi naskah CP (sumber sejarah setempat, tidak sezaman) dan keterangan tradisi lokal tadi memberikan konstribusi yang besar dalam mengungkap sejarah raja dan kerajaan di Jawa Barat ini.


Aksi

Information

22 responses

1 01 2010
Babesajabu

SELAMAT TAHUN BARU 2010…HIDUP BARU DAN SEMANGAT BARU BUAT KITA SEMUA…SALAM SUKSES SELALU…

***BABESAJABU***

1 01 2010
Babesajabu

SALAM PERSAHABATAN…

5 01 2010
Aditya

Trims, slm kmbli.

5 01 2010
Cecep MH

Assalaamu’alaikum
Salam Kenal.
Cerita anda tentang Kuningan bagus dan informatif. Mohon ditulis lagi lebih banyak biar kita tahu sejarah tentang kota di selatan Cirebon itu.
Ibu saya lahir disana, di daerah Cimindi, kecamatan Ancaran. Saya sendiri lahir di Bekasi. Cuma sering diajak ibu dulu waktu beliau masih ada.
Saya kerja di Bank Indonesia, Direktorat Perbankan Syariah.
Terima Kasih
Wass

5 01 2010
Aditya

Trima ksh, slm knl kmbali

8 01 2010
Dedhy Kasamuddin

Assalamu ‘alaikum mas..!!!

Lama tak berkunjung lagi nihh.. mohon maaf yah jika ada kesalahan saya atau salah2 kata, dan semoga kita bisa menjalin silaturahmi sesama Blogger lebih erat lagi kedepannya.

Salam,
Dedhy Kasamuddin

9 01 2010
aditya

Wa’alaikum salam…., sama-sama qt slg mmaafkn. Smoga slturahmi ttp langgeng. Amiin….

2 02 2010
Ika

Sae… Abdi oge kawitna ti kuningan mung ayena nuju ngumbara di cianjur, damel di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Diantos informasi nu sasnesna, upami tiasa mah asal usul Desa/Kec. Lebakwangi (kampung halaman sim kuring).

Hatur Nuhun…..

15 03 2010
yusandi

Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan kabawah ku Batara Dangiang Guru.
Sang Wulan dijenengkeun Guruhaji di Kajaron.
Sang Tumanggal dijieun Guruhaji Kalanggara di Balamoha.
Sang Pandawa di Kuningan jadi Guruhaji Lajuwatang.
Sang Puki jadi Guruhaji di Pagerwesi.
Sang Manisri dijadikeun Buyuthaden Rahesa di Puntang.
Buyuthaden Tujungputih di Kahuripan.
Buyuthaden Sumajajah di Pagajahan.
Buyuthaden Pasugihan di Batur.
Buyuthaden Darongdong di Balaraja.
Buyuthaden Pagergunung di Muntur.
Buyuthaden Muladarma di Parahiangan.
Buyuthaden Batuhiang di Kuningan.
(Carita Parahyangan)

17 08 2011
Karis Megantara

hatur nuhunkana informasina…maju terus kang….

25 09 2011
didin wahyudin

mhun atuh rumasa gumbira,,,
tiasa ngajalin tali silaturahmi sareng wargi kuningan ,,
salam kenal abdi wargi maleber,,
nju kuliah di yogya,,,
nhunkeun pidoana…

11 04 2012
Anto

Assalamu’alaikum… Salam kenal tuk semua warga kuningan di manapun anda berada… saya memang bukan orang kuningan asli, tapi ibu saya lahir di kuningan tepatnya desa Cikananga Kecamatan Garawangi.. So, I love Kuningan

19 02 2013
arierayy

abdi bngga pisan jdi wargi kuningan,kota nu aman,sehat,rukun,sareng dai nu endah..

Kuningan kota Asri I LOVE U..

salam kenal abdi wargi cirukem,kc.garawangi..

4 04 2013
kerta kusuma maheswara

4 04 2013
kerta kusuma maheswara

25 08 2013
Kuningmas Auto Care, Bengkel Pemeliharaan dan Perbaikan Mobil di Kota Kuningan

ikut nyimak kang, lagi menulusuru sejarah kota kuningan, hatur nuhun sudah berbagi tulisan

24 09 2013
Danar Gunar Ekalaya

Slalu semangat kalo nyimak ulasan sejarah berdirinya suatu daerah, ahaha

25 09 2013
Wawan Irwansyah

izin copas kang . Terus berkarya Kang, smoga warga Kuningan makin cerdas dan Bijaksana.

25 02 2014
Agil Barkah Disastra

Pakuwan Mohosinto Winduherang
Tempat atau wilayah asal muasal Sejarah Peradaban Manusia dan Sejarah Pewayangan
Sri Candra Patikusuma (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Winduherang sendiri itu sudah dikenal pada tahun 420 SM, dimana pada saat itu yang sudah dikenal Rajanya Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau adalah Sang Pandawa Wiragati Raja Kuningan. Beliaulah yang mengeluarkan ajaran HASTABRATA (8 ajaran pemimpin yang bersih )maka dari situlah nama Winduherang diambil, yang sebelumnya nama Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Rajatapura atau orang mengenalnya wilayah tempat asal muasalnya Medang Kamuliaan dalam tokoh Pewayangan, Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Dayeuh atau puseurnya Ibu kota KUNINGAN yang dikatakan MOHO SIN TO, karena disitu pada tahun 230 SM sudah berkedudukan Sang Maha Raja Besar yang dikatakan Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bhima Prakarma Sang Iswara Digwijaya Surya Maha Purusha Jagat Pati atau kita mengenalnya Pangeran Arya Adipati Ewangga, yang sudah bisa menguasai Dunia luar baik itu Barat dan Timur karena beliaulah yang pertama mendapatkan kejayaan keemasan di Nusantara sehingga beliau di katakan sebagai SUNDA dari kata Dewa Matahari. Sebelum mengambil nama Winduherang kita memang sudah mengenal kata RAJATAPURA karena disinilah asal muasal pertama adanya peradaban kerajaan pertama karena di Kuningan sendiri mengacu dari awalnya/adanya kerajaan pertama di Nusantara yang dikatakan SALAKANAGARA. Sebelum nama Winduherang dikenal nama Winduherang itu sudah banyak dikenal ada yang menyatakan bahwa Winduherang itu sebelumnya dikenal sebagai SINGAJAYA atau yang dikatakan SINGAJAYA RAJATAPURA dan mengenalnya SINGAPURA karena sebelum masuk ke Winduherang itu ada nama SIDAPURNA. Kemudian setelah mendapatkan kejayaan (kita kembali ke cerita 230 SM) pada jaman Kerajaan Taruma Nagara, disaat itu yang mendapatkan Kejayaan itu Pangeran Arya Adipati Ewangga atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman disitu masih dikatakan RAJATAPURA atau PAKUWAN MOHO SIN TO sebagai Ibukota Dayeuhnya KUN ING AN , sehingga beliaulah yang dikatakan dalam Pewayangan sebagai Bhatara Surya. Sehingga nama Winduherang sendiri itu dikenal pada jaman Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya yang dikenal sebagai Sri Baginda Maha Raja Candra Warman sebagai Raja Taruma Nagara ke 7 sebagai Dinasti daripada Purnawarman atau Pangeran Arya Adipati Ewangga, sehingga beliaulah yang mengeluarkan 8 atau windu atau ajaran yang bersih atau herang yang dikatakan HASTABRATA yaitu ajaran seorang pemimpin yang bersih yang terdiri dari sifat atau watak :
1. Matahari
2. Bulan
3. Bintang
4. Api
5. Mega/Mendung
6. Air
7. Bumi
8. Samudra
Sehingga disitulah Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang PANDAWA Raja Kuningan yang mengumandangkan satu ajaran Dangiang Kuning atau 10 ajaran tentang kebaikan hidup umat manusia karena disitulah sehingga pada tahun 420 SM disaat Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa Raja Kuningan yang dikenal sekarang namanya Pangeran Rama Jaksa Patikusuma mengumandangkan menjadi nama WINDUHERANG

SYARIF JUANDA (Anggota DPRD Kabupaten Kuningan) :
“ Tidaklah terlalu sulit kiranya kalau untuk meyakinkan khalayak bahwa Cerita/Sejarah Winduherang yang mana berkaitan dengan nama-nama Pewayangan itu bukanlah rekayasa, salah satu pembuktiannya sangatlah mudah yang mana kita tahu bahwa ajaran Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa atau Sang Ramayana atau Pangeran Rama Jaksa Patikusuma beliau yang mengeluarkan ajaran 10 Pedoman kebaikan hidup umat manusia, ini tertulis dalam beberapa Naskah Tua yang dijadikani rujukan para Sejarawan Nasional, ketika bicara 10 Pedoman kebaikan hidup umat Manusia nama-nama Pewayangan Sang Pandawa ini ada ketidak fairan para ilmuwan nasional kenapa Sang Pandawa tidak diakui bahwa beliau adalah sosok Raja Kita, kenapa kita lebih percaya bahwa Sang Pandawa ini konon berasal dari India, kan kita malu,.. sementara ini kita tahu bahwa para ilmuwan dunia justru mengakui bahwa PANDAWA atau cerita pewayangan adalah kisah nyata yang berasal dari Pulau Jawa, tidak ada didaerah manapun tidak ada Raja Mana pun yang memiliki nama Pewayangan selain KUNINGAN.

Kang AGA NUGRAHA (Pemerhati Sejarah Kuningan dan Ahli Kosmologi) :
“ Ternyata di Kuningan itu ada ranah atau wilayah seperti titik Winduherang itu sangat punya garis utama dari bidang kosmologi sehingga ini bisa dijadikan pendekatan untuk mencairkan kebekuan makna dari Legenda bahkan dari dongeng. dan disini ditemukan beberapa titik atau situs dan ini sangat menunjang sekali dari titik kosmologi dan dari satu sisi kosmologi ini kita mengkaji dari sisi bahasa, sehingga di Winduherang itu ada nama-nama wilayah yang sifatnya sangat menunjang untuk pengkajian dari sisi Kosmologi

Raden Sri Candra Patikusuma (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Di Winduherang ada mengenal beberapa kesenian yang diantaranya sudah banyak terlupakan tarian Golewang, tarian yang melambangkan satu penghormatan menyambutnya tentang Para Dewa, memang tarian ini tidak jauh berbeda dengan tarian lainnya yang ada yang banyak dijalankan di Sunda, akan tetapi tarian Golewang ini memang dijalankan dengan ritual-ritual tertentu. Kemudian yang kedua ada yang dikenal dengan barongsai atau kesenian Buraq atau Buroq yang sudah punah atau memang dilupakan yang sebetulnya inilah kesenian yang pertama dari Winduherang yang menggunakan sebagai gambaran kebesaran Kereta Paksi Naga Liman. Buroq itu adalah cerita/budaya yang menggambarkan satu tunggangan kebesaran Raja Sura Liman Sakti atau beliaulah sendiri yaitu Pangeran Arya Adipati Ewangga yang menggunakan tunggangan kereta Paksi Naga Liman, itulah yang selama ini memang di Kuningan sendiri sudah agak pudar dan memang banyak menjauh ke wilayah-wilayah luar wilayah Kuningan, karena memang itu kebetulan tradisonal yang sangat besar sekali kalau kita merunut ke asal muasal ya itulah daripada jaman Pangeran Sura Liman Sakti atau Pangeran Arya Adipati Ewangga. Kemudian ada juga Genjring dan Reog dan inilah pada masa kesenian beliau atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman (Pangeran Arya Adipati Ewangga) dan Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/Sang Pandawa Raja Kuningan (Pangeran Rama Jaksa Patikusuma) , tapi sampai saat ini yang memang masih sering dilaksanakan dalam upacara-upacara penyambutan Hari Jadi Kuningan khusunya di Winduherang yaitu untuk Golewang masih dilakoni walaupun memang jarang.
SYARIF JUANDA (ANGGOTA DPRD KABUPATEN KUNINGAN) :
“Sangat prihatin, memang dalam hal ini budaya dikembangkan atau dipelihara, tapi kenapa ini hanya dijadikan sebagai budaya to, Negara ini akan menjadi besar justru dari nama Besar dan Jasa-Jasa Besar Beliau-Beliau para pendiri NUSANTARA.

SRI CANDRA PATIKUSUMA (Penulis Sejarah Kuningan)
“ Makom-makom dan nama-nama Raja – Raja yang tertulis di dalam Panggung Sejarah Nasional dan sejarah Pewayangan ada di Winduherang Kuningan Jawa Barat.
“Prof. Dr. Nugroho Noto Susanto dalam buku sejarah nasional Indonesia tahun 1970 menyatakan” bahwa Panggung-panggung peristiwa sejarah nasional dan nusantara nama-nama keberadaannya ada di wilayah Jawa Barat bagian timur tepatnya KUNINGAN”. Dan ini bisa dijadikan keberatan atas pemindahan panggung peristiwa sejarah ke wilayah luar Kuningan”.
Sudah waktu niti mangsa Sejarah Kuningan ini terbuka, Insya Allah.

Terkait penamaan Kuningan itu sendiri diambil dari Kitab DANGIANG KUNING/DANG HYANG KUNING yang diemban oleh SANG PANDAWA WIRAGATI RAJA KUNINGAN atau PANGERAN RAMA JAKSA PATIKUSUMA yang kemudian DANGIANG KUNING diserahkan kepada RADEN DEMUNAWAN/RESI GURU SEUWEUKARMA (Menantu SANG PANDAWA WIRAGATI) yang berisi 10 ajaran/pedoman kebaikan hidup umat manusia (Ten Commandement).
KUN ING AN :
KUN : KUN FAYAKUNA NA ISMAYA
ING : ING SUN NA DEWANGGA
AN : ANTAGA BUMI SENTOSA (atau kalo dikaji lebih dalam artinya Jati Diri)

Syeh Syarif Hidayatullah/Kanjeng Sinuhun Jati/Sunan Gunung Jati menyebut KUNINGAN dengan sebutan KAJENE yang artinya Tanah Emas atau Tempat Yang dimuliakan. Kita Bisa melihat lambang bokor Kuning/bokor emas yang dijadikan lambang daerah Kuningan.
Bokor artinya tempat atau wadah sedangkan Emas artinya logam mulia, jadi filosofisnya KUNINGAN itu adalah tempat atau tanah kelahiran Manusia-manusia yang dimuliakan. Syeh Syarif Hidayatullah sendiri mendapatkan gelar SUNAN JATI ketika beliau tirakat di KERAMAT JATI WINDUHERANG.

22 12 2014
esa

sjarah pmbagian wilayah,dsb hrus brdasarkn naskah2 kuno,tdk brdasarkn praturan sumbr rujukn yg dibuat pnjajah.jika bnr trtera nama kuningan(dlm aksara sunda kuno)pd carita parahyangan n ditulis tahun abad sblum pnjajah dtang,brarti bnr kuningan ada pd abad 15

9 03 2015
zayien putra kencana

aq pengen tau cerita gunung jawa/gunung tilu yg bertempat kc.karangkencana….dan siapa raksa wijaya itu…….

3 09 2015
D 12 NGH

DIRGAHAYU KABUPATEN KUNINGAN TERCINTA MAJU DAN JAYALAH KUNINGAN KU…AMIN salam wargi kuningan………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: