Bukti-bukti Eksistensi Kerajaan Saunggalah Kuningan (Abad ke-8 s.d 13 Masehi)

9 03 2009

Pada zaman kuna (Hindu-Budha) di Jawa Barat tumbuh pemerintahan Kerajaan Sunda yang pusat atau ibukota kerajaannya pernah berpindah-pindah. Paling tidak diketahui adanya empat buah ibukota atau pusat kerajaan selama masa Kerajaan Sunda. Keempat pusat kerajaan dimaksud adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran (Kartodirdjo, dkk II, 1975: 209-226). Menurut Saleh Danasasmita (1975: 47), pusat Kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis sebagai berikut: Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi Kerajaan Sunda itu berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakwan Pajajaran.

Tidak jarang bahwa nama kerajaan atau negara dikenal melalui nama ibukotanya (Ayatrohaedi, 1978: 51). Dalam hal ini maka istilah Kerajaan Pajajaran dengan demikian haruslah diartikan sebagai “kerajaan yang ibukotanya bernama Pajajaran”. Demikian pula mengenai Kerajaan Saunggalah di Kuningan.

Sampai saat ini pemahaman sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Saunggalah ditunjang oleh bukti-bukti yang dapat dikatakan sedikit sekali. Bukti-bukti eksistensi tentang Kerajaan Saunggalah sampai saat ini berasal dari hasil-hasil temuan dalam negeri berupa naskah kuna, benda-benda arkeologi termasuk situs sejarah. Berikut ini adalah beberapa bukti yang dapat digunakan dalam rangka historografi Kerajaan Saunggalah:

1. Naskah Carita Parahiyangan

Naskah berbahasa Sunda Kuna yang berasal dari abad ke-16 Masehi ini merupakan naskah paling penting dalam rangka historiografi Kerajaan Saunggalah. Naskah ini pada pokoknya membahas tentang Kerajaan Galuh dan Sunda sejak lahir hingga keruntuhannya, serta di dalamnya dibahas pula eksistensi Kerajaan Saunggalah di bawah pemerintahan Resiguru Demunawan (disebut juga Sang Seuweukarma, Rahiyangtang Kuku atau Sang Kuku). Naskah ini diantaranya mengisahkan bahwa Resiguru Demunawan adalah raja yang bertakhta di Saunggalah, masa pendirian kerajaan ini hampir bersamaan dengan masa awal pemerintahan Sanjaya di Kerajaan Galuh, yaitu pada abad ke-8 Masehi. Demunawan melakukan tugasnya sebagai seorang raja dengan baik,  sehingga membawa  kesejahteraan bagi kerajaannya. Daerah kekuasaannya hampir menyamai luas daerah taklukan Sanjaya. Sanjaya menghormati tokoh dari Saunggalah ini, karena Demunawan adalah seorang tokoh keagamaan (Hindu) sekaligus juga uwaknya.

2. Naskah-naskah Wangsakerta

Naskah-naskah ini merupakan hasil pertemuan para ahli sejarah dari hampir 90 daerah di Nusantara, yang berlangsung pada tahun 1677 Masehi di Keraton Kasepuhan Cirebon. Hasil karya mereka itu ada beberapa ratus judul mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ada 47 jilid yang merupakan gabungan dari sejarah berbagai daerah, yaitu:

a. Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, 25 jilid (sarga)

b. Pustaka Pararatwan, 10 jilid

c. Pustaka Nagarakretabhumi, 12 jilid

Menurut masa penulisannya, naskah itu termasuk naskah Sunda kuna, karena ditulis dalam bagian kedua abad ke-17 yaitu tahun 1677-1698 Masehi (Ekadjati, 1982/1983: 106). Hurup yang digunakan adalah hurup kawi dengan bahasa yang disebut Jawa Tengahan, tetapi menurut Wangsakerta sendiri disebut purwajawa (Jawa Kuna). Naskah tersebut diantaranya menyebutkan eksistensi Kerajaan Saunggalah dalam lingkungan kehidupan kerajaan-kerajaan lainnya, khususnya di Jawa Barat seperti Kerajaan Galuh, Sunda, dan Galunggung. Salah satu keterangan penting adalah diungkapkannya akhir kekuasaan Kerajaan Saunggalah dan Kerajaan Galunggung, yang selanjutnya bersatu (digabungkan) dengan Kerajaan Galuh Pakuan (Ekadjati et.al, 1989: 60)

3. Sumber-sumber Lain

Sumber yang dirasakan dapat menunjang bagi kepentingan kajian sejarah Kerajaan Saunggalah adalah pemanfaatan ceritera-ceritera tradisional berkaitan dengan adanya situs-situs sejarah di Kabupaten Kuningan. Daripadanya dapat dijadikan indikator bahwa suatu situs sejarah masih mendapat tempat dalam alam pikiran penduduk di sekitarnya, terlepas dari masalah benar atau tidaknya isi riwayat terhadap pemahaman situs sejarah tersebut. Adapun situs sejarah terpenting yang berhubungan dengan eksistensi Kerajaan Saunggalah adalah situs sejarah yang terdapat di Bukit Sangiang Desa Sagarahiyang Kec. Darma Kuningan. Di tempat tersebut ditemukan benda-benda peninggalan arkeologi berupa lingga dan arca nandi serta papan-papan batu yang diduga bekas reruntuhan bangunan candi yang berasal dari abad ke-7 atau ke-8 Masehi (Dasuki et al., 1978: 25).


Aksi

Information

8 responses

27 10 2009
vigrx

Hello Guru, what entice you to post an article. This article was extremely interesting, especially since I was searching for thoughts on this subject last Thursday.

29 10 2009
aditya

Thanks for your attention have read and interested with my article. Reason of I write this article because wishing to lift my birth area according to my knowledge.

5 08 2010
ahmadrahmat

Menarik, selama ini saya hanya tahu Tarumanagara, Pajajaran, dan Galuh yang muncul sekilas pada waktu saya SD. Belakangan setelah membaca Buku2nya Ayatrohaedi, Ekadjati, dan ..ah saya lupa, masih ada Kerajaan lainnya yang berdiri di Bumi Sunda. Oleh karena itu, saya sangat berbahagia sekali di kesempatan lain dapat diceritakan cerita2 orangtua dulu yang masih ada di daerah Kuningan, maklum di di daerah Bogor cerita2 kuno banyak tergerus arus urbanisasi. Haturnuhun

9 08 2010
aditya

Hatur nuhun oge …ka Sdr.A Rahmat.

16 03 2011
aa.sumana

apakah email anda aditya69_kos@yahoo.co.id tdk aktif ?

14 06 2011
Wangsa Surya Pajajaran

keren abizzzz

9 11 2011
tanjak

Saya berasal dari desa di sekitar desa sagarahiang, namun sayang saya lihat pemerintah daerah belum memaksimalkan potensi daerah tersebut. Padahal kalau di promosikan dan di kelola dengan baik akan mendatangkan devisa untuk warga sekitar. Salut…….. masih ada yang peduli dengan sejarahnya

14 11 2013
eman

saya kebetulan orang sagarahiang dari nama2 tempat nya aja saya udah berfikir jangan2 dulu di desa sagarahiang adalah pernah ada tempai ibadah agama hindu kalau dilihat dari nama tempat mirif dengan nama2 hindu, seperti, sagarahiang, purajiwa,sanghiang dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: