Bila kita berjalan-jalan di seputar wilayah Kabupaten Kuningan, apakah berjalan-jalan di dalam kota Kuningan maupun di luar kota Kuningan (tiap kecamatan yang ada di Kuningan), sejauh yang penulis ketahui belum pernah rasanya menemukan nama suatu jalan di kota kab/kec/desa, gedung besar/kecil, rumah makan, hotel/penginapan, dan lain sebagainya menggunakan nama SURANGGAJAYA. Ada apa, dan mengapa bisa terjadi demikian ? Nama besar Suranggajaya seolah-olah terlupakan, atau memang dilupakan ? Padahal beliau (Suranggajaya) itu adalah tokoh besar dalam sejarah kuningan, yakni beliau itulah yang disebut sebagai Sang Adipati Kuningan, pemimpin keadipatian Kuningan pada masa perkembangan Islam (abad XV – XVI). Baca entri selengkapnya »
“Suranggajaya” Mengapa Tidak Diabadikan ?
5 11 2009Komentar : 3 Komentar »
Tag: Artikel, Sejarah, Sejarah Kuningan, Tokoh Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Amanat dari Galunggung
1 11 2009Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna
(Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)
(Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy)
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Amanat Galunggung, Galunggung, Sejarah
Kategori : Sejarah
Menelusuri “Tempat-tempat Tua” dari Sejarah Kuningan
29 10 2009Bila kita perhatikan nama-nama tempat yang disebut dalam sejarah kuningan, baik pada zaman kuna (Hindu Budha) ataupun zaman madya (Islam) ada beberapa nama tempat yang keberadaannya dapat kita telusuri atau kita ketahui, dan di lain pihak ada nama-nama tempat yang masih gelap di mana keberadaannya. Nama tempat yang dapat ditelusuri berkaitan karena nama tempat tersebut masih ada atau masih dipakai sampai sekarang dalam bentuk nama sebuah desa/kelurahan, kampung/dusun, kota kecamatan atau nama lainnya yang terletak di wilayah Kabupaten Kuningan atau pun di luar Kab. Kuningan. Sedangkan yang belum diketahui keberadaannya tentunya menjadi perhatian kita semua, khususnya warga Kuningan, untuk mencari tahu (meneliti) di mana gerangan nama tempat tersebut berada. Untuk itu mari kita coba simak satu persatu tempat-tempat “tua” di Kuningan ini. Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Pemerintahan Setelah Sang Adipati Kuningan
28 10 2009Menurut sumber tradisi Kuningan bahwa setelah Sang Adipati Kuningan meninggal dunia, ia digantikan oleh salah seorang putranya yang dikenal dengan julukan Geusan Ulun. Sumber lain menyebutkan bahwa Geusan Ulun Kuningan tersebut sebenarnya bernama Kusumajaya. Nama Geusan Ulun pada kurun waktu yang sama (sekitar abad XVI-XVII) juga dikenal di daerah lain yaitu Geusan Ulun Sumedang, yang bernama Angkawijaya. Geusan Ulun pengganti Sang Adipati Kuningan ini diberitakan mempunyai banyak istri. Mungkin sekali perkawinan yang dilakukannya itu mempunyai arti politik. Wanita-wanita yang diperistrinya itu mungkin puteri-puteri dari tokoh-tokoh setempat yang mempunyai kedudukan penting atau berpengaruh di daerahnya. Diceriterakan bahwa Pangeran Geusan Ulun Kuningan mempunyai 40 putera-puteri, yang kebanyakan mendapat sebutan “Dalem”. Adapun nama ke-40 orang putera-puteri Geusan Ulun seperti dikenal dalam ceritera rakyat adalah sebagai berikut: Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Saunggalah Kuningan
25 10 2009Penetapan wilayah kekuasaan Kerajaan Saunggalah dapat diketahui berdasarkan naskah Carita Parahiyangan (CP). Naskah tersebut diantaranya menyebutkan sekitar 13 daerah yang langsung menjadi wilayah kekuasaan Sang Seuweukarma atau Resiguru Demunawan, yaitu: Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pagergunung, Muladarma, dan Batutihang (Atja, 1968: 48). Banyaknya daerah yang dibawahkan oleh Kerajaan Saunggalah tersebut tidak lepas dari bantuan Batara Dangiang Guru yang telah menggabungkan daerah Kerajaan Galunggung ke dalamnya, untuk menambah wibawa atau kebesaran Kerajaan Saunggalah agar dapat menandingi kebesaran Kerajaan Galuh. Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Kuda Kuningan “Si Windu” atau “Winduhaji” ?
16 10 2009Dalam kisah Sejarah Kuningan telah diberitakan bahwa tokoh Syekh Maulana Arifin, yaitu putra dari Syekh Maulana Akbar, pernah memelihara peternakan jenis kuda yang selanjutnya berkembang dan terkenal menjadi KUDA KUNINGAN sekarang ini. Konon jenis/varian kuda kuningan pada abad XV itu adalah hasil blasteran antara kuda-kuda pilihan saat itu yang diantaranya didatangkan dari daerah Bima (Sumbawa) sehingga diperoleh jenis kuda yang kuat, bertenaga besar, tangguh, dan juga lincah/gesit. Seimbang dengan kelincahan & kegesitannya itu makanya bentuk tubuh atau perawakan kuda itu memiliki bentuk fisiknya yang ideal yaitu bertubuh kecil, tetapi tidak terlalu kecil seperti kuda poni. Berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan induk semangnya dari Bima/Sumbawa yang “jangkung pangguh”. Pada waktu itu kuda-kuda dari Kuningan ini digunakan sebagai kuda tunggangan pemiliknya (semacam kendaraan pribadi), khususnya dimiliki oleh para pejabat kalangan istana/keraton, dan juga sebagai kuda tunggangan untuk berperang (kuda perang). Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Sejarah Kuningan “Masih Banyak Yang Gelapnya”
26 08 2009Menelusuri jejak sejarah Kuningan, yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan di Jawa Barat, ternyata masih menyisakan banyak “misteri” di dalamnya. Artinya masih ada sisi-sisi gelap dari ceritera sejarah Kuningan yang belum berhasil disibak, diungkapkan, dikemukakan kepada publik bagaimana sebenarnya Sejarah Kuningan yang kronologis dari A – Z secara paripurna, kumplit atau selengkapnya. Baik itu Sejarah Kuningan di zaman prasejarah, zaman kuna (Hindu-Budha), zaman madya (Islam), zaman baru/modern. Kecuali barangkali yang terakhir ini, pernah terbit buku “Perjuangan Revolusi Fisik Rakyat Kuningan” yang mengungkap sejarah zaman kolonial di Kuningan salah satu keberhasilan menguak salah satu tabir kegelapan sejarah Kuningan di era waktu yang lebih dekat ke arah kekinian.
Pemda Kab. Kuningan pernah menyimpan naskah hasil penelitian tentang Sejarah Kuningan yang disusun oleh team peneliti, Bpk Ahmad Dasuki dkk. Juga buku sejarah Kuningan yang pernah ditulis oleh Alm Bpk. Edi S. Ekadjati yang memberikan gambaran tentang Sejarah Kuningan dari hasil penelitian beliau berdasarkan sumber-sumber sejarah yang berhasil dikumpulkannya. Namun dari semuanya itu nampak & memang diakui bahwa masih ada (bahkan banyak) sisi-sisi gelap yang belum berhasil disibakkan / dikuakkan tentang bagaimana sejarah itu sebenarnya terjadi, terutama Kuningan zaman lampau (purba, kuna, madya). Seperti halnya ada kesimpangsiuran mengenai suatu nama tokoh (Arya Kamuning/Adipati Kuningan/Adipati Ewangga), tempat (Arile/Kajene/Kadjaron?), terputusnya mata rantai genealogi, hierarki birokrasi/para penguasa, masalah waktu yang terkadang meloncat-loncat (abad 8 tiba-tiba berikutnya muncul di abad 11), dsb. Ini tentu saja membutuhkan perhatian lanjutan dari para pemerhati Sejarah Kuningan.
Sebab utama dari masih ada sisi gelapnya Sejarah Kuningan yang belum terungkap itu adalah karena sumber sejarahnya yang masih minim. Belum banyak sumber sejarah yang berhasil digali tentang eksistensi Kuningan di masa lampau tersebut. Apakah sumber benda, sumber tertulis, sumber lisan, atau sumber rekaman. Sumber dalam negeri atau sumber luar negeri. Bahkan sumber sejarah Kuningan yang ada bahkan lebih cenderung banyak diambil dari sumber tradisional (tradisi lisan) yang banyak mengandung unsur mitos, dan sumber sastra sejarah yang notabene perlu disiangi lagi di dalamnya untuk mencapai tingkat kevalidan yang obyektif. Sejarah memang diharapkan yang obyektif, tetapi sulit menghindari unsur subyektifitas. Pekerjaan besar bagi masyarakat Kuningan, bagaimana berupaya mengungkap Sejarah Kuningan yang sesungguhnya secara lengkap.
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
3 Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kerajaan di Kuningan
17 03 2009Menggali kembali eksistensi dari zaman pemerintahan kuna di Kuningan, setidaknya ada 3 tempat di Kuningan yang pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan (ibukota) kerajaan, baik kerajaan zaman Hindu/Budha maupun zaman Islam. Tiga daerah yang dimaksud adalah:
Komentar : Leave a Comment »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Kerajaan Saunggalah sebagai “tandingan” Kerajaan Galuh
11 03 2009Salah satu sumber yang memberikan informasi mengenai masa awal berdirinya Kerajaan Saunggalah, sekalipun tidak langsung, adalah naskah Carita Parahiyangan (CP). Naskah ini mengisahkan tokoh Sanjaya bahwa sebelum diakui sebagai Raja Galuh, ia harus berhadapan (mengalahkan/menundukan) tiga serangkai, yaitu Sang Wulan, Sang Tumanggal, dan Sang Pandawa. Mereka adalah tiga tokoh utama dari daerah yang disebut dengan nama KUNINGAN (Atja, 1968: 46).
Komentar : 2 Komentar »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan
Bukti-bukti Eksistensi Kerajaan Saunggalah Kuningan (Abad ke-8 s.d 13 Masehi)
9 03 2009Pada zaman kuna (Hindu-Budha) di Jawa Barat tumbuh pemerintahan Kerajaan Sunda yang pusat atau ibukota kerajaannya pernah berpindah-pindah. Paling tidak diketahui adanya empat buah ibukota atau pusat kerajaan selama masa Kerajaan Sunda. Keempat pusat kerajaan dimaksud adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran (Kartodirdjo, dkk II, 1975: 209-226). Menurut Saleh Danasasmita (1975: 47), pusat Kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis sebagai berikut: Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi Kerajaan Sunda itu berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakwan Pajajaran.
Tidak jarang bahwa nama kerajaan atau negara dikenal melalui nama ibukotanya (Ayatrohaedi, 1978: 51). Dalam hal ini maka istilah Kerajaan Pajajaran dengan demikian haruslah diartikan sebagai “kerajaan yang ibukotanya bernama Pajajaran”. Demikian pula mengenai Kerajaan Saunggalah di Kuningan.
Komentar : 2 Komentar »
Tag: Sejarah, Sejarah Kuningan
Kategori : Sejarah, Sejarah Kuningan












RSS - Posts


Komentar Terakhir