Aneh…!, Nama “Suranggajaya” di Kuningan Mengapa Tidak Populer ???

14 04 2010

Sekali lagi, saya masih menyayangkan dan turut prihatin atas kekurangtahuan masyarakat warga Kab. Kuningan yang masih “buta” akan sejarah daerahnya. Masalahnya memang selama ini pendidikan sejarah lokal Kuningan tidak dipopulerkan di bangku-bangku sekolah. Tidak hanya sekarang namun jauh-jauh sebelumnya juga entah berapa puluh tahun atau ratus tahun ke belakang kiranya Sejarah Kuningan tidak biasa diajarkan sebagai pelajaran mulok dalam pelajaran IPS.  Dan menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya pihak-pihak terkait, untuk mempopulerkan sejarah Kuningan dimaksud.

Salah satu keprihatinan yang sekarang nyata ada, berwujud atau “bungkleukan” adalah mengenai nama tokoh SURANGGAJAYA yang kalah pamor atau “kasilihkeun” oleh nama Arya Kamuning dan Dipati Ewangga yang gaungnya lebih hebat. Dua tokoh yang disebutkan terakhir ini begitu kental dikenal di telinga masyarakat Kuningan karena memang nama Arya Kamuning dan Dipati Ewangga telah terpampang di muka publik, diabadikan menjadi nama jalan dan nama gedung megah di Kab. Kuningan. Lain halnya dengan nama Suranggajaya, hampir tidak dikenal, malah memang tidak dikenal, atau mungkin belum dikenal … ???

Menurut data sejarah, kedudukan Suranggajaya itu justru lebih “hebat” dari Arya Kamuning dan Dipati Ewangga. Ya Suranggajaya itulah yang menjadi Sang Adipati Kuningan tempo dulu (abad XV-XVI), sementara Arya Kamuning sebagai orang tua kepala pedukuhan Winduherang yang mengasuh/membesarkan Suranggajaya yang dititipkan Sunan Gn Jati kepadanya, dan Dipati Ewangga sebagai senapati atau panglima perang “Keadipatian” Kuningan yang dipimpin Sang Adipati Kuningan atau Suranggajaya tadi – (coba lihat catatan saya sebelumnya).

Namun di zaman sekarang, mengapa nama Suranggajaya justru tenggelam ditelan 2 nama pengiringnya yaitu Arya Kamuning dan Dipati Ewangga ? Barangkali itu letak kesalahan para orang tua kita dulu yang tidak mensosialisasikan nama Suranggajaya kepada publik. Dalam hal ini mungkin para ahli sejarah dahulu belum mendeteksi nama Suranggajaya sebagai Sang Adipati Kuningan. Dan sekarang setelah ditemukannya bukti sejarah baru bahwa Sang Adipati Kuningan itu sebenarnya adalah Suranggajaya, maka perlu mensosialisasikannya kembali kepada publik tentang nama Suranggajaya ini. Tugas siapa ini untuk mensosialisasikan nama besar Suranggajaya kepada publik ? Yang paling berkompetent tentunya pihak pemerintahan daerah Kuningan melalui pihak-pihak terkait. Mudah-mudahan nyata adanya.

About these ads

Aksi

Information

15 tanggapan

15 06 2010
finance charts

semangat..salam kenal…

thanks….

di tunggu kunjungan baliknya…

26 06 2010
ahmad yani

hatur nuhun kana penjelasanana, insyaalloh ku abdi disebarluaskeun

7 09 2010
Alex

Ah aink baheula sakola bola di SSB Turanggajaya jaman bupati na yeng

23 10 2011
Lili Lita

karunya ka urang kuningan nu t apal sajarah lemburna sorangan,terutama luragung,budak ngora ayuena t peduli kana sajarah plus ti sepuhna t aya carita nu d dugikeun sautuhna ka anak incuna,jadi sajarah ngan baruk jeung cnh,abdi bangga k akang nu tos nyadiakeun link ieu,mdh2n selalu terus d up date.

11 11 2011
dani ramdani

emang bener,sakola ayeuna mah loba ulinna wae,ka bapa/ibu guru,sok ajarkeun k murid” asal usul kuningan,trutama luragung

21 12 2011
Boim kayawongwiswanoh

Setahu saya SURANGGAJAYA adalah pendiri dan buyut msyrakat desa cibingbin kec cibingbin di makamkannya pun di kiara gajah desa/kec cibingbin.

24 05 2012
andryan purba

punten sateuacanna, eyang SURANGGAJAYA th karuhun luragung sanes? pan keur zaman sura th aya 3, SURANGGAJAYA,SURAMANGGALA,SARENG SURADIJAYA, kitu saterang abdi mh,,,

24 05 2012
aditya

Mhun, Suranggajaya salah sawios karuhun urang Kuningan ti Luragung

1 06 2013
Tatang Sutandar

Hayu atuh Kang, urang damel Buku “Sejarah Kuningan”

20 06 2013
Agil Barkah Disastra

Sejarah Kuningan dan Luragung tidak bakal dapat dipisahkan :

Pangeran Arya Adipati EWANGGA jelas lebih dikenal karena beliau adalah Raja Dunia dengan banyak nama dan gelar,Sang Raja Resi Dewa Raja,/Sri Baginda Syeh Jafar/Pangeran Sura Liman Sakti/Bima Prakarma Sang Iswara Surya Maha Purusa Jagat Pati/Sang Mitra/Sang Pencerah/Pangeran Sapujagat/Pangeran samber Nyawa/The Great of Alexander Agung/Iskandar Zulkarnain/Dewa Versace/Panglima Perang Samara Tunggal. Masa Pemerintahan beliau adalah pada 300 tahun Saka Masehi. Beliau lah yang dinamakan Sang Hyang Batara Surya yg berkedudukan di Winduherang. makanya ada nama Sidapurna yang artinya :
Sida : Terbit
Purna/Pur : Cahaya

menegenai Suranggajaya sebenarnya Beliau bernama Raden Gantangan (bukan suranggajaya). Raden Gantangan/Fatahillah/Faletehan adalah putra dari Sinuhun Jati dari istrinya yg berasal dari Cina (Ong Tin ) yg dilahirkan di Luragung. kelak dikemudian hari beliau menjadi pemimpin Kuningan bergelar Adipati Kuningan. makam beliau ada di wilayah Cirendang.

Mengenai Pangeran Arya kamuning tak lain adalah Raden Bratawijaya/Raden Surosowan/Prabu Munding Laya/Syeh Abdul Qodir. Beliau adalah adik kandung dari Ki Gedeng Kuningan/Pangeran Sura Jaya Wisesa/Jayakarta/Syeh Abdul Rahim/Raden Gana Wijaya/Prabu Guru Gantangan/Prabu Munding Wangi/Prabu Sang Hyang/Susuhunan Pajengan Sunda (beliau2 adalah Putra Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji Baduga Jaya Ratu Dewata/Prabu Guru Dewata Jaya Prana Maha Prabu Siliwangi dari istrinya yg bernama Ratu Kentring Manik/Ratu Mayang Sunda atau Ratu Sumur Bandung)

Suranggana Jaya atau Ki Bagus Maulana Akbar atau Syeh Maulana Akbar (namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kuningan) tak lain adalah kakak kandung dari Raden Raksa Jaya Manggala/Raden Sura Jaya Manggala atau lebih dikenal dengan nama Ki Gedeng Luragung.(putra2 dari Putra Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji Baduga Jaya Ratu Dewata/Prabu Guru Dewata Jaya Prana Maha Prabu Siliwangi dari istri yg kedua).

Sementara dari istri yg ketiganya yakni Ratu Subang Karancang/Subang Larang Prabu dikarunia 3 putra yg bernama :
1. Raden Walang Sungsang/Pangeran Cakrabuana/Syeh Bayanullah/Syah Bandar Cirebon/Adipati Cirebon/Mbah Kuwu Sangkan/Susuhunan Rangga Pakuwan.
2. Ibu Ratu Nyimas Rara Santang/Ibu Ratu Syarifah Muda’im
3. Raden Sangara/Prabu Kian Santang/Syeh Abdul Muhibat

Selama ini Sejarah Kuningan – Luragung dipeteng/disamarkan dan digelapkan, kini sudah waktunya diangkat. perlu diketahui bahwa di Kuningan ada Periode Pewayangan dan Periode Anbiyah. Mengapa di Kuningan ada Bokor Emas,…disitulah ada makna yg harus digali dan dikaji. bokor berarti wadah/tempat, sedang kan emas berarti logam mulia, nah ada apa sebenarnya di KUN-ING-AN ini…??? mari kita renungkan dan kaji bersama.

26 06 2013
Dodi Nurdjaja

Punten, Kang. Saya membuat link ke tulisan ini pada tulisan saya “Untold Story | Arya Kemuning (Pangeran Arya Adipati Kuningan)” http://dodi-nurdjaja.blogspot.com/2013/06/untold-story-arya-kemuning-pangeran.html Semoga tidak keberatan.

Makasih

29 06 2013
aditya

Mhun, mangga !!!

1 07 2013
H aang andi

abdi stuju ku ayana nu kersa munculken cerita sjarah kuningan,slaku wrga kuningan abdi ngrsa bangga..
by brudak ancaran

5 09 2013
socha

maaf den setau saya tidak ada yg bernama suranggajaya. . .adipati kuningan sndri setau saia ia adlah raden Gantangan putra si nuhun gunung jati yg makam nya sendri brada di cirendang medang agung kamuliaan kun ing an._/|\_

4 11 2013
Agil Barkah Disastra

Pakuan Mohosinto Winduherang
Tempat atau wilayah asal muasal Sejarah Peradaban Manusia dan Sejarah Pewayangan
Sri Candra Patikusuma (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Winduherang sendiri itu sudah dikenal pada tahun 420 SM, dimana pada saat itu yang sudah dikenal Rajanya Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau adalah Sang Pandawa Wiragati Raja Kuningan. Beliaulah yang mengeluarkan ajaran HASTABRATA (8 ajaran pemimpin yang bersih )maka dari situlah nama Winduherang diambil, yang sebelumnya nama Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Rajatapura atau orang mengenalnya wilayah tempat asal muasalnya Medang Kamuliaan dalam tokoh Pewayangan, Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Dayeuh atau puseurnya Ibukota yang dikatakan MOHOSINTO, karena disitu pada tahun 230 SM sudah berkedudukan Sang Maha Raja Besar yang dikatakan Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bhima Prakarma Sang Iswara Digwijaya Surya Maha Purusha Jagat Pati atau kita mengenalnya Pangeran Arya Adipati Ewangga, yang sudah bisa menguasai Dunia luar baik itu Barat dan Timur karena beliaulah yang pertama mendapatkan kejayaan keemasan di Nusantara sehingga beliau di katakan sebagai SUNDA dari kata Dewa Matahari. Sebelum mengambil nama Winduherang kita memang sudah mengenal kata RAJATAPURA karena disinilah asal muasal pertama adanya peradaban kerajaan pertama karena di Kuningan sendiri mengacu dari awalnya/adanya kerajaan pertama di Nusantara yang dikatakan SALAKANAGARA. Sebelum nama Winduherang dikenal nama Winduherang itu sudah banyak dikenal ada yang menyatakan bahwa Winduherang itu sebelumnya dikenal sebagai SINGAJAYA atau yang dikatakan SINGAJAYA RAJATAPURA dan mengenalnya SINGAPURA karena sebelum masuk ke Winduherang itu ada nama SIDAPURNA. Kemudian setelah mendapatkan kejayaan (kita kembali ke cerita 230 SM) pada jaman Kerajaan Taruma Nagara, disaat itu yang mendapatkan Kejayaan itu Pangeran Arya Adipati Ewangga atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman disitu masih dikatakan RAJATAPURA atau PAKUWAN MOHOSINTO sebagai Ibukota Dayeuhnya KUN ING AN , sehingga beliaulah yang dikatakan dalam Pewayangan sebagai Bhatara Surya. Sehingga nama Winduherang sendiri itu dikenal pada jaman Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya yang dikenal sebagai Sri Baginda Maha Raja Candra Warman sebagai Raja Taruma Nagara ke 7 sebagai Dinasti daripada Purnawarman atau Pangeran Arya Adipati Ewangga, sehingga beliaulah yang mengeluarkan 8 atau windu atau ajaran yang bersih atau herang yang dikatakan HASTABRATA yaitu ajaran seorang pemimpin yang bersih yang terdiri dari sifat atau watak :
1. Matahari
2. Bulan
3. Bintang
4. Api
5. Mega/Mendung
6. Air
7. Bumi
8. Samudra
Sehingga disitulah Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang PANDAWA Raja Kuningan yang mengumandangkan satu ajaran Dangiang Kuning atau 10 ajaran tentang kebaikan hidup umat manusia karena disitulah sehingga pada tahun 420 SM disaat Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa Raja Kuningan yang dikenal sekarang namanya Pangeran Rama Jaksa Patikusuma mengumandangkan menjadi nama WINDUHERANG

SYARIF JUANDA (Anggota DPRD Kabupaten Kuningan) :
“ Tidaklah terlalu sulit kiranya kalau untuk meyakinkan khalayak bahwa Cerita/Sejarah Winduherang yang mana berkaitan dengan nama-nama Pewayangan itu bukanlah rekayasa, salah satu pembuktiannya sangatlah mudah yang mana kita tahu bahwa ajaran Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa atau Sang Ramayana atau Pangeran Rama Jaksa Patikusuma beliau yang mengeluarkan ajaran 10 Pedoman kebaikan hidup umat manusia, ini tertulis dalam beberapa Naskah Tua yang dijadikani rujukan para Sejarawan Nasional, ketika bicara 10 Pedoman kebaikan hidup umat Manusia nama-nama Pewayangan Sang Pandawa ini ada ketidak fairan para ilmuwan nasional kenapa Sang Pandawa tidak diakui bahwa beliau adalah sosok Raja Kita, kenapa kita lebih percaya bahwa Sang Pandawa ini konon berasal dari India, kan kita malu,.. sementara ini kita tahu bahwa para ilmuwan dunia justru mengakui bahwa PANDAWA atau cerita pewayangan adalah kisah nyata yang berasal dari Pulau Jawa, tidak ada didaerah manapun tidak ada Raja Mana pun yang memiliki nama Pewayangan selain KUNINGAN.

Kang AGA NUGRAHA (Pemerhati Sejarah Kuningan dan Ahli Kosmologi) :
“ Ternyata di Kuningan itu ada ranah atau wilayah seperti titik Winduherang itu sangat punya garis utama dari bidang kosmologi sehingga ini bisa dijadikan pendekatan untuk mencairkan kebekuan makna dari Legenda bahkan dari dongeng. dan disini ditemukan beberapa titik atau situs dan ini sangat menunjang sekali dari titik kosmologi dan dari satu sisi kosmologi ini kita mengkaji dari sisi bahasa, sehingga di Winduherang itu ada nama-nama wilayah yang sifatnya sangat menunjang untuk pengkajian dari sisi Kosmologi

Raden Sri Candra Patikusuma (Penulis Sejarah Kuningan):
“ Di Winduherang ada mengenal beberapa kesenian yang diantaranya sudah banyak terlupakan tarian Golewang, tarian yang melambangkan satu penghormatan menyambutnya tentang Para Dewa, memang tarian ini tidak jauh berbeda dengan tarian lainnya yang ada yang banyak dijalankan di Sunda, akan tetapi tarian Golewang ini memang dijalankan dengan ritual-ritual tertentu. Kemudian yang kedua ada yang dikenal dengan barongsai atau kesenian Buraq atau Buroq yang sudah punah atau memang dilupakan yang sebetulnya inilah kesenian yang pertama dari Winduherang yang menggunakan sebagai gambaran kebesaran Kereta Paksi Naga Liman. Buroq itu adalah cerita/budaya yang menggambarkan satu tunggangan kebesaran Raja Sura Liman Sakti atau beliaulah sendiri yaitu Pangeran Arya Adipati Ewangga yang menggunakan tunggangan kereta Paksi Naga Liman, itulah yang selama ini memang di Kuningan sendiri sudah agak pudar dan memang banyak menjauh ke wilayah-wilayah luar wilayah Kuningan, karena memang itu kebetulan tradisonal yang sangat besar sekali kalau kita merunut ke asal muasal ya itulah daripada jaman Pangeran Sura Liman Sakti atau Pangeran Arya Adipati Ewangga. Kemudian ada juga Genjring dan Reog dan inilah pada masa kesenian beliau atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman (Pangeran Arya Adipati Ewangga) dan Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/Sang Pandawa Raja Kuningan (Pangeran Rama Jaksa Patikusuma) , tapi sampai saat ini yang memang masih sering dilaksanakan dalam upacara-upacara penyambutan Hari Jadi Kuningan khusunya di Winduherang yaitu untuk Golewang masih dilakoni walaupun memang jarang.
SYARIF JUANDA (ANGGOTA DPRD KABUPATEN KUNINGAN) :
“Sangat prihatin, memang dalam hal ini budaya dikembangkan atau dipelihara, tapi kenapa ini hanya dijadikan sebagai budaya to, Negara ini akan menjadi besar justru dari nama Besar dan Jasa-Jasa Besar Beliau-Beliau para pendiri NUSANTARA.

SRI CANDRA PATIKUSUMA (Penulis Sejarah Kuningan)
“ Makom-makom dan nama-nama Raja – Raja yang tertulis di dalam Panggung Sejarah Nasional dan sejarah Pewayangan ada di Winduherang Kuningan Jawa Barat.
“Prof. Dr. Nugroho Noto Susanto dalam buku sejarah nasional Indonesia tahun 1970 menyatakan” bahwa Panggung-panggung peristiwa sejarah nasional dan nusantara nama-nama keberadaannya ada di wilayah Jawa Barat bagian timur tepatnya KUNINGAN”. Dan ini bisa dijadikan keberatan atas pemindahan panggung peristiwa sejarah ke wilayah luar Kuningan”.
Sudah waktu niti mangsa Sejarah Kuningan ini terbuka, Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: